Menurutnya ada empat fokus yang menjadi perhatiannya, yakni subjek dan objek tax amnesty serta tarif dan tata cara pembayaran uang tebusan.
"Saya tidak bisa ngomong potensinya sekian," ujar Ken kepada CNNIndonesia di kantornya, Jumat (4/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemudian tarif, itu berbeda-beda. Jadi tidak bisa dipukul rata sekian persen, hasilnya sekian. Kemudian tata cara pembayaran, ini penting. Ada yang dipotong, ada yang dipungut, ada yang dibayar sendiri," tuturnya.
"Kalau undang-undangnya selesai tahun ini, mudah-mudahan, kalau disetujui ya selesai (tahun ini)," tuturnya.
Namun, Ken mengatakan kebijakan itu belum tentu bisa langsung dilaksanakan pada tahun ini sekalipun DPR dan pemerintah bisa menuntaskan pembahasan RUU tersebut bulan ini. Pasalnya, dibutuhkan waktu untuk sosialisasi dan edukasi ke masyarakat, serta menyiapkan perangkatnya.
"Jadi tidak mungkin ‘ini selesai ya, sudah pakai saja’, tidak bisa begitu," katanya.
Sigit Priadi Primadito, Dirjen Pajak sebelumnya, menggunakan hasil riset McKinsey untuk mengkalkulasi potensi penerimaan negara dari kebijakan tax amnesty. Menurutnya, pengampunan pidana pajak ini mampu menarik pulang (repatriasi) aset yang dilarikan pengemplang pajak ke luar negeri sekitar Rp 2 ribu triliun. Dengan asumsi tarif 3 persen untuk uang tebusan, ia meyakini kebijakan ini bakal menyumbang penerimaan pajak minimal Rp 60 triliun.
"Tujuan kita cuma satu yaitu merepatriasi dana-dana yang ada diluar negeri. Tujuannya bukan pajaknya, tapi uangnya. Karena dengan begitu uangnya masuk ke Indonesia maka akan membantu pertumbuhan ekonomi dalam negeri," jelasnya sebelum mengundurkan diri. (ags/gen)