Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo menyatakan konferensi yang mengundang para pakar dan delegasi pemerintah dari beberapa negara tetangga itu akan membahas bersama tantangan dan peran kebijakan fiskal dalam pembangunan negara-negara berkembang sejak krisis keuangan global.
Dari konferensi tersebut akan dicari solusi terbaik mengamankan pendapatan negara dan mengoptimalkan pendapatan sumber daya menggunakan insentif fiskal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menuturkan, Indonesia kembali masuk kategori negara berpendapatan menengah sejak 2003 seiring dengan membaiknya perekonomian nasional dengan rata-rata pertumbuhan tahunan 5,6 persen hingga 2014.
Akibatnya kebutuhan pembangunan negara dari investasi asing dan dalam negeri memang masih tergolong tinggi, dengan kontribusi lebih dari 30 persen terhadap PDB. Namun Mardiasmo menilai hal itu belum cukup signifikan memperkuat basis-basis ekonomi Indonesia.
“Dalam kerangka kebijakan fiskal pemerintahan Joko Widodo, salah satu gebrakan untuk mengatasi hambatan pertumbuhan adalah dengan mengurangi subsidi bahan bakar dan energi dan dialihkan untuk menyokong pendanaan infrastruktur dan perlindungan sosial,” tegasnya.
Namun, penurunan harga minyak internasional dan perlambatan ekonomi mengurangi ruang fiskal yang tercipta dari kebijakan itu sehingga pemerintah harus memutar otak guna meningkatkan pendapatan dengan memperbaiki sistem pemungutan pajak dan merencanakan pemberian amnesti pajak. (gen)