Hal ini tak lepas dari adanya kebijakan pemerintah yang dinilai bakal mengubah struktur perekonomian Indonesia, dari semula berbasis konsumsi menjadi investasi.
Bahkan Ahli Perbankan Senior dari Sampoerna University, Wahyu Soedarmono meyakini Indonesia berpeluang memperlebar gerak investasinya melalui sektor finansial, berkat masuknya banyak aliran dana ke pasar keuangan nasional mulai tahun depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menyusul adanya perubahan struktur perekonomian Indonesia, ungkap Wahyu sudah seyogya pemerintah mendorong peran investor swasta dan luar negeri untuk menempatkan dananya pada portofolio investasi nasional bertenor panjang.
Pasalnya di tengah perlambatan ekonomi Indonesia seperti sekarang besaran konsumsi masyarakat dapat terlihat dari rendahnya inflasi yang dialami Indonesia selama beberapa bulan terakhir.
"Jadi peran pemerintah masih sangat esensial. Percepatan belanja jadi yang harus diprioritaskan," katanya.
Menurut Ganjar, adanya tantangan tersebut terlihat dari minimnya pemahaman masyarakat Indonesia mengenai pentingnya peran pasar keuangan terhadap kebutuhan dana investasi. Di mana pembiayaan investasi sendiri masih menggunakan sumber dana berjangka pendek seperti deposito.
Dengan adanya fenomena tersebut, Ganjar pun meyakini fenomena tersebut akan menimbulkan risiko missmatch dengan kebutuhan pembiayaan investasi yang rata-rata menggunakan dana jangka panjang.
"Penetrasi inklusi keuangan tahun depan kita punya target naik 5 persen. Kita upayakan bersama-sama dengan dunia usaha. Ini penting karena kita dihadapkan dana pihak ketiga yang ternyata jangka waktunya pendek-pendek," kata Ganjar. dalam kesempatan yang sama. (dim/gen)