"Ekspor diperkirakan belum dapat diharapkan naik secara berarti, bahkan mungkin masih melanjutkan tren menurun yang sudah berlangsung selama empat tahun berturut-turut," tulis Faisal dalam blog pribadinya, Senin (4/1).
Menurut Faisal, nilai ekspor Indonesia sepanjang tahun lalu kemungkinan tidak akan melebihi US$150 miliar atau jauh lebih rendah ketimbang tahun lalu yang mencapai US$176,3 miliar. Penyebab utamanya, jelas Faisal, harga komoditas yang diperkirakan terus turun melanjutkan tren beberapa tahun terakhir.
"Kenaikan harga kmoditas diharapkan baru terjadi tahun 2017," ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tahun 2016, lanjutnya, impor diperkirakan naik sejalan dengan investasi yang meningkat lebih cepat dan pembangunan infrastruktur yang terus dipacu. Dengan demikian, Faisal mengkhawatirkan surplus transaksi perdagangan terancam kembali defisit.
"Pada tahun 2015, negara emerging markets mengalami arus modal asing keluar terbesar sepanjang sejarah, lebih dari setengah triliun dollar AS. Tahun ini tekanan masih berlanjut walaupun tidak separah tahun lalu," jelasnya.
Oleh karena itu, ia menilai mau tak mau kebijakan investasi harus lebih kondusif serta stabilitas fiskal dan moneter harus lebih terjaga. "Jika tidak, rupiah bakal terus mengalami tekanan," ucapnya. (ags)