Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan menjelaskan alasan pemerintah Indonesia meminta penundaan diskon bea masuk, karena khawatir fasilitas itu membuat produsen mobil negeri Samurai enggan mengembangkan model keluaran terbaru hasil produksi pabriknya di dalam negeri.
Menurut Putu, investasi industri otomotif di Indonesia kebanyakan berasal dari Jepang, sehingga akan membuat prinsipal lebih senang melakukan impor CBU ketimbang investasi untuk memproduksi mobil jenis baru.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, ia mengatakan kalau sampai saat ini masih belum ada keputusan yang bulat dari Pemerintah terkait implementasi penurunan bea masuk tersebut. Selain itu, Putu menambahkan kalau Kemenperin juga tengah mempersiapkan industri nasional jika bea masuk impor CBU dari Jepang jadi turun menjadi 0 persen pada 2023.
Sebagai informasi, penurunan bea impor CBU asal Jepang diatur di dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 209 tahun 2012. Peraturan tersebut hadir sebagai implementasi IJEPA.
Jadi Pasar Semata
Senada dengan Putu, Vice President Director PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono juga mengaku khawatir jika peraturan itu jadi diimplementasikan. Ia beralasan, implementasi diskon bea masuk impor hanya semakin mempertegas posisi Indonesia sebagai pasar potensial semata.
"Memang implementasi ini tak bisa dihindari. Siap atau tidak siap, tentu kami telah melakukan pekerjaan kami sendiri. Namun TMMIN tak bisa bergerak sendiri, produsen lain juga tentunya harus siap bersaing produksi mobil secara biaya dan juga kualitas. Kalau itu sudah bisa, maka sudah saatnya kita ikut masuk ke persaingan tersebut," tuturnya pekan lalu
Ia menambahkan, upaya beberapa produsen mobil yang akan dilakukan adalah memperkuat efisiensi industri hulu otomotif. Salah satu upayanya, ia mencontohkan, adalah dengan menggunakan satu jenis komponen tertentu dari sebuah produsen komponen untuk meningkatkan skala ekonomis (economies of scale) produksi pemasok komponen itu.
"Karena satu jenis komponen yang diproduksi perusahaan komponen kan tidak hanya digunakan oleh Toyota, penggunanya banyak. Maka dari itu, yang terpenting adalah pendalaman industri dengan cara perkuat supplier dan lebih meningkatkan daya saing di produksi Completely Knock-Down Unit (CKD)," ujar Warih.
Sebagai informasi, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat volume produksi mobil anggotanya pada 2015 sebanyak 1.098.780 unit atau menurun 15,38 persen dari produksi tahun sebelumnya sebesar 1.298.523 unit. Di tahun yang sama, impor CBU mobil tercatat sebesar 82.306 atau menurun 21,24 persen dari angka 104.503 unit di tahun sebelumnya. (gen)