Alih-alih bersaing, ADB memiliki cara lain untuk mengatasi kompetisi untuk mengucurkan dana pinjaman tersebut. Presiden ADB Takehiko Nakao mengatakan ADB akan menempuh skema kerjasama pembiayaan (co-financing) dengan AIIB untuk mendanai proyek-proyek infrastruktur yang dianggap layak di wilayah Asia.
Takehiko mengaku pihak ADB sudah bertemu dengan pihak AIIB untuk mendiskusikan sejumlah proyek yang bisa dibiayai bersama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nantinya, skema pembiayaan co-financing sendiri merupakan perjanjian antara dua kreditur untuk bersama-sama mendanai suatu proyek. Namun suku bunga dan skema pengembalian pinjaman diterapkan berbeda-beda sesuai dengan aturan yang ditetapkan masing-masing kreditur.
Tahun lalu, ADB memberikan dukungan pembiayaan sebesar US$1,67 miliar pada Indonesia. Termasuk di dalamnya adalah pinjaman program sebesar US$400 juta untuk mengembangkan pasar keuangan dan inklusi keuangan, pinjaman program lainnya sebesar US$400 juta untuk mengembangkan sektor energi, dan pinjaman berbasis hasil perdana sebesar US$600 juta untuk membantu peningkatan jaringan transmisi dan distribusi listrik di Sumatra.
"Kebutuhan infrastruktur di Indonesia sangat besar, ADB dan AIIB akan terus bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan tersebut," ujar Country Director ADB untuk Indonesia Steven R. Tabor. (gir)