Manajer Senior Publik Relation PLN, Agung Murdifi menjelaskan Sutet tersebut memiliki panjang transmisi 30 kilometer sirkit (kms), yang terdiri dari 57 tower dan masuk dalam sistem interkoneksi yang melintas dari Sumbagut, Medan hingga ke Riau lewat Bagan Batu.
Pengoperasian infrastruktur listrik tersebut, kata Agung, merupakan rangkaian dari program strategis Pemerintahan Joko Widodo dalam rangka mempercepat roda perekonomian kawasan barat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai informasi, proyek ketenagalistrikan yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo tersebut sengaja dibangun di kawasan ekonomi khusus (KEK) Sei Mangkei seperti yang tertuang dalam paket kebijakan ekonomi VI terkait dengan peningkatan infrastruktur kelistrikan di KEK.
Dengan demikian, lanjutnya, program tersebut diharapkan dapat mendongkrak perekonomian Indonesia, terutama Simalungun, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pasca pengoperasian dua fasilitas listrik itu, Agung menambahkan secara Pararel PLN Wilayah Sumatera Selatan juga berhasil mengoperasikan trafo daya 30 Mega Volt Ampere (MVA) Gardu Induk ( GI ) 150 kV Pagar Alam di Provinsi Sumatera Selatan.
GI 150 kV Pagar Alam mengalirkan energi listrik dari Sistem Sumatera. Dengan beroperasinya trafo daya 30 MVA ini maka kualitas listrik disisi pelanggan akan lebih baik dan lebih handal.
"Hadirnya trafo 30 MVA dan GI 150 kV ini merupakan hadiah untuk para pelanggan dari PLN dalam rangka untuk memberikan pelayanan yang terbaik, sejalan dengan itu perkuatan sistem jaringan juga memungkinkan PLN dapat melayani permintaan pelanggan baru dan tambah daya" imbuh Agung.
Ia mengatakan, kehadiran trafo 30 MVA merupakan salah satu upaya PLN dalam menggantikan trafo 10 MVA (replacement) untuk melayani permintaan Pelanggan Baru dan Tambah Daya dari masyarakat sekitar.
Sebelum memiliki trafo 30 MVA, Agung bilang GI 150 kV Pagar Alam hanya memiliki 2 trafo dengan daya 10 MVA dan 15 MVA. Namun, seiring bertambahnya beban pada trafo tersebut maka apabila terjadi gangguan yang tidak diinginkan pada salah satu trafo, maka trafo yang beroperasi tidak dapat memikul beban yang ada.
Hal ini lah yang kerap menyebabkan pemadaman bergilir dan meresahkan masyarakat.
Seperti diketahui, Pulau Sumatera menjadi salah satu prioritas dalam pembangunan Pembangkit 35.000 MW. Dimana 18.000 MW pembangkit akan dibangun di Sumatera. Sedangkan pembangunan jaringan transmisinya sendiri diperkirakan mencapai 19.292 Kilo Meter Sirkit (kms) dengan kebutuhan Gardu Induk mencapai 32.096 MVA. (ags)