Jokowi Dorong Impor Sapi India, Industri Minta Jatah Daging

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Kamis, 25/02/2016 06:28 WIB
Kualitas daging sapi India dinilai lebih baik dibandingkan dengan daging sapi Australia dan dari segi harga juga lebih murah. Sejumlah pengunjung melihat sapi yang diikut sertakan pada kontes ternak sapi di Nogosari, Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (17/9). (Antara Foto/Aloysius Jarot Nugraha)
Jakarta, CNN Indonesia -- Asosiasi Industri Pengolahan Daging Indonesia (NAMPA) berharap bisa menikmati impor daging sapi asal India seiring wacana Presiden Joko Widodo yang ingin melakukan impor sapi dari negara Asia Selatan tersebut. Pasalnya, harga daging sapi India bisa membuat biaya produksi industri semakin murah.

Ketua NAMPA, Ishana Mahisa beralasan harga daging sapi asal India lebih murah 40 persen dibanding harga daging Australia yang selama ini digunakan sebagai bahan baku produksi industri. Menurut catatannya, harga daging India kini seharga Rp40 ribu per kilogram (kg) sedangkan harga daging Australia bisa mencapai Rp56 ribu per kilogram.

"Kami dengar impor daging india akan dibuka, industri berharap ini bisa menggunakan daging ini. Karena harganya memang jauh lebih murah untuk digunakan sebagai bahan baku produksi," ujar Ishana di Jakarta, Rabu (24/2).


Lebih lanjut, ia mengatakan daging sapi dan kerbau India lebih lezat dijadikan produk olahan karena memiliki serat yang lebih besar. Menurutnya, daging dengan jenis seperti itu lebih cocok digunakan untuk industri karena memiliki kandungan protein yang juga banyak.

"Kami ambil contoh produk sosis. Kalau seratnya bagus, ketika dimakan, gigitan kita seperti terasa enak," ujarnya.

Apabila pemerintah memperbolehkan hal itu, lanjutnya, industri juga berjanji akan memperbanyak kandungan daging (meat contain) di dalam produk olahan daging demi meningkatkan daya saing dengan produk impor. Ia mengaku miris dengan kondisi produk olahan daging dalam negeri yang kandungan dagingnya masih sedikit.

Saat ini, jelas Ishana, kandungan daging di produk olahan daging memgambil proporsi 50 persen dari total 22 komponen produksi yang digunakan. Jika impor daging India ini diperbolehkan, industri berjanji akan meningkatkan kandungan daging 30 persen dari jumlah kandungan daging saat ini.

"Saya kadang-kadang sedih melihat meat contain industri kami, tapi mau bagaimana lagi karena kalau mau disamakan dengan produk impor kami tak bisa bersaing secara harga. Kalau harga daging lebih murah kan proporsi daging di dalam produk kami kan bisa lebih banyak," tuturnya.

Melalui penambahan kandungan sapi, ia juga berharap masyarakat bisa menyerap hasil produksi daging olahan lokal mengingat produk impor gencar menyerbu beberapa tahun terakhir. Menurut data yang dimilikinya, impor produk olahan daging meningkat pesat dari US$ 3 juta di tahun 2012 ke angka US$ 10 juta di tahun 2015.

"Produk-produk mereka juga bahan bakunya dari India, sehingga tak heran harganya bisa murah," jelasnya.

Meskipun memiliki opsi menurunkan harga jual, namun NAMPA tetap memilih untuk meningkatkan kandungan daging di dalam produk olahan tersebut. Ia beralasan, semakin banyak daging di dalam produk olahan sapi, maka semakin besar kesempatan masyarakat memperoleh protein.

"Sekarang banyak keluarga muda banyak mengonsumsi sosis atau nugget, itu kan juga dikonsumsi sama anak-anak mereka. Kalau mereka banyak makan sosis yang dagingnya lebih banyak, kan artinya mereka bisa dapat gizi lebih banyak juga," kata Ishana.

Sebagai informasi, saat ini NAMPA memiliki 33 anggota yang diklaim menguasai 85 persen produk olahan daging yang beredar. Hingga tahun 2015, nilai output industri ini senilai Rp 7 triliun dengan pertumbuhan 12 persen.

Melalui paket kebijakan ekonomi ke IX, aturan impor ternak maupun produk hewan kini tak lagi memakai basis negara namun menggunakan zonasi sehingga memungkinkan impor daging sapi dari India.

(ags/ags)