Hal itu yang kemudian disambut baik sejumlah negara dengan menyediakan diri sebagai "tempat parkir" dana ilegal tersebut dengan biaya yang rendah.
"Adanya Panama Papers itu menunjukkan celah orang perlu tax haven, menyimpan dana yang mungkin sulit dipertanggungjawabkan," ujar Fadli di Jakarta, Selasa (5/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal serupa disampaikan Anggota Komisi XI DPR Misbakhun. Menurutnya, perlu ada acuan yang jelas disimpannya dana pengusaha dan politikus Indonesia di luar negeri karena upaya penggelapan dana atau menghindari tingginya pajak.
"Adanya Panama Papers menunjukkan perseorangan dan korporasi selalu berupaya mengurangi jumlah pajaknya. Itu sah. Kalau melanggar hukum ya penggelapan," ujar Misbakhun.
Dokumen rahasia "Panama Papers" yang dirilis ICIJ dalam situsnya disebutkan, Mossack Fonseca, firma hukum yang berbasis di Panama, tak segan-segan membantu kliennya melakukan penipuan berkedok investasi atau yang sering dikenal dengan skema Ponzi.
Mossack bahkan disebut sebagai fasilitator pencucian uang bagi para pengemplang pajak global.
ICIJ juga menelusuri aksi penipuan berkedok investasi yang dilakukan Mossack Fonseca hingga ke Indonesia. Perusahaan investasi kecil di Indonesia pernah mengaku terafiliasi dengan perusahaan hasil bentukan Mossack Fonseca di Virgin Islands British. Perusahaan itu didirikan khusus untuk menipu dan berhasil mengumpulkan modal hingga US$150 juta dari sekitar 3.500 investor. (gen)