Harga BBM Rendah Belum Tentu Picu Penjualan Mobil Tahun Ini

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Kamis, 07/04/2016 16:57 WIB
Harga BBM Rendah Belum Tentu Picu Penjualan Mobil Tahun Ini Meningkatnya pendapatan riil yang didorong penguatan daya beli masih menjadi pertimbangan utama masyarakat dalam membeli mobil, bukan karena harga BBM yang rendah. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pabrikan mobil di Indonesia tidak yakin penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada awal April 2016 mampu meningkatkan kinerja penjualan mobil sampai akhir tahun ini. Pasalnya, penurunan harga BBM bukanlah alasan utama masyarakat Indonesia dalam membeli mobil.

Direktur Pemasaran dan Layanan Purnajual PT Honda Prospect Motor (HPM) Jonfis Fandi mengatakan penurunan harga BBM memang bisa mempengaruhi penjualan mobil, namun tidak secara langsung. Karena menurutnya, meningkatnya pendapatan riil yang didorong penguatan daya beli masih menjadi pertimbangan utama masyarakat dalam membeli mobil.

"Memang kalau berpengaruh sih berpengaruh, tapi kami rasa itu bukan faktor utama. Apalagi dampaknya baru bisa dirasakan secara jangka panjang, tergantung pergerakan harga BBM-nya juga," ujar Jonfis di sela-sela Indonesia International Motor Show (IIMS) di Jakarta, Kamis (7/4).


Ia menambahkan, penjualan mobil baru akan terpengaruh secara cepat jika pemerintah menaikkan harga BBM. Pasalnya, akan ada banyak pelanggan yang beralih dari mobil dengan mesin berkapasitas besar ke kapasitas kecil untuk mengurangi beban pembelian bahan bakar.

"Mereka hanya akan ganti cc saja kalau BBM naik. Kalau BBM turun ya biasanya tidak langsung mereka beli mobil," ujarnya.

Kendati demikian, ia juga menduga jika moncernya penjualan Honda di tiga bulan pertama tahun ini mungkin juga dipengaruhi oleh penurunan harga BBM di awal tahun ini. Sebagai informasi, penjualan Honda pada kuartal pertama 2016 tercatat sebesar 59.379 unit atau meningkat 33,47 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar 44.488 unit.

"Mungkin saja penjualan naik karena adanya penurunan BBM sejak awal tahun, tapi kami tak bisa melihat seberapa besar dampaknya," ujarnya.

Sementara itu, Vice President Director PT Toyota Astra Motor (TAM) berharap penurunan harga BBM di awal April ini bisa meningkatkan kinerja penjualan Toyota sepanjang 2016. Setali tiga uang dengan Jonfis, ia mengatakan dampak penurunan BBM itu tak serta merta langsung meningkatkan penjualan dalam waktu singkat.

"Tentu ada jangka waktunya, tidak bisa secara tiba-tiba langsung naik penjualan. Namun kami belum bisa prediksi seberapa besar peningkatannya. Kami harap sih bisa meningkat," jelasnya di lokasi yang sama.

Sebagai informasi, pemerintah telah menurunkan harga BBM jenis Premium dan Solar sebesar Rp500 per liter mulai awal kuartal II 2016. Sehingga atas dasar itu, harga Premium turun menjadi Rp6.450 per liter dan Solar menjadi Rp5.150 per liter dalam jangka waktu tiga bulan ke depan.

Hal tersebut membuat manajemen PT Federal International Finance (FIF) optimistis bisa menyalurkan kredit pembelian sepeda motor sebesar Rp30 triliun tahun ini, naik 9,09 persen dibandingkan realisasi penyaluran kredit 2015 sebesar Rp27,5 triliun.

Direktur FIF Suhartono memperkirakan target tersebut bisa lebih mudah tercapai, setelah pemerintah menurunkan harga jual BBM karena bisa meningkatkan daya beli masyarakat untuk barang-barang tersier seperti sepeda motor.

"Kami optimistis 2016 ini penjualan roda dua akan naik seiring dengan penurunan harga BBM. Dalam sejarah, ketika harga BBM turun maka penjualan motor naik,” kata Suhartono, kemarin. (gen)