Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan peluang bisnis rumah sakit di Arab Saudi sangat prospektif, mengingat banyak sekali penduduk Indonesia yang melakukan dua kegiatan keagaaman tersebut.
Menurut data Kementerian Agama, jumlah jemaah haji asal Indonesia pada 2015 sebesar 155.200 orang. Angka itu terus bertambah dibanding tahun sebelumnya sebesar 154.467 orang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain diperuntukkan bagi jemaah haji dan umrah asal Indonesia, rumah sakit ini juga dibuka untuk Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang mencari nafkah di sana. Menurut data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), jumlah TKI di Arab Saudi mencapai 23 ribu orang atau menurun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 44.325 orang.
Menyambung pernyataan Dwi, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengatakan ekspansi ini merupakan hasil pembicaraan intensif kedua negara sejak September 2015. Sebagai menteri yang ditunjuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menangani investasi dari dan menuju Timur Tengah, ia mengatakan akan terus mengawal investasi ini agar cepat teralisasi.
"Bahkan rencananya Menteri Kesehatan Indonesia akan signing nota kesepahaman dengan Menteri Kesehatan di sana. Karena selain rumah sakit, ternyata kami juga diberi kesempatan untuk masuk ke bisnis farmasi juga," jelasnya di lokasi yang sama.
Melihat laporan keuangan Pertamina pada 2014, jasa kesehatan dan rumah sakit menyumbang pendapatan sebesar US$71,82 juta atau menurun 14,04 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$83,56 juta. (gen)