Modern Internasional Kembalikan Lisensi Fujifilm ke Jepang

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Rabu, 08/06/2016 18:53 WIB
Modern Internasional Kembalikan Lisensi Fujifilm ke Jepang Di lepasnya lini bisnis fotografi membuat manajemen Modern Internasional, pengelola gerai 7-Eleven memperkirakan kinerja penjualannya stagnan tahun ini. (Getty Images/Joe Raedle).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Modern Internasional Tbk memperkirakan penjualannya bakal stagnan sepanjang 2016 ini, tidak jauh berbeda dibandingkan realisasi penjualan 2015 sebesar Rp1,2 triliun.

"Target 2016 rencananya kita restrukturisasi dan perampingan bisnis perusahaan, karena ada pengembalian lisensi bisnis kami yaitu Fujifilm. Itu kami kembalikan karena trennya menurun, jadi kami kembalikan haknya ke Fujifilm," ujar Tina Novita, Sekretaris Perusahaan Modern Internasional, Rabu (8/6).

Tina menyatakan tahun ini perusahaannya akan fokus pada bisnis ritel 7-Eleven. Hingga akhir tahun kemarin, jumlah gerai 7-Eleven berjumlah 188. Di mana perusahaan menutup 20 gerai dan pembukaan gerai baru sebanyak 18. Tahun ini, Modern Internasional menargetkan jumlah gerai mencapai 200.


"Jadi tinggal 12 lagi target pembukaan kami tahun ini," jelasnya.

Perusahaan tidak hanya akan membuka gerai baru, tapi juga akan melakukan peninjauan terhadap semua gerai yang berkinerja tidak baik.

Belanja Modal

Untuk mempertahankan penjualan menyerupai angka tahun lalu, Modern Internasional mengalokasikan belanja modal Rp10 miliar yang dipenuhi seluruhnya dari kas internal. Namun sepanjang kuartal I 2016, perusahaan belum memakai belanja modalnya.

“Belanja modal kami masih utuh karena belum ada renovasi atau pembangunan gerai. Untuk memperbaiki atau membangun gerai baru, kami alokasikan dana Rp300 juta sampai Rp500 juta,” katanya.

Ia menambahkan, perusahaan akan memperbanyak produk fresh food di gerai 7-Eleven sebagai strategi untuk mencapai target.

Tina menilai kesempatan 7-Eleven untuk tumbuh masih sangat besar terutama di Jakarta. Masyarakatnya yang semakin sibuk dan tidak sempat memasak di rumah, menjadi peluang yang dimanfaatkan perusahaan.

"Otomatis masyarakat tidak sempet pulang ke rumah, kami akan memenuhi gap kebutuhan ini agar mereka dapat kebutuhan sehari-hari," paparnya.

Sebagai informasi, Modern Internasional meraih penjualan Rp1,2 triliun pada 2015 lalu. Angka ini berkurang dari periode sebelumnya sebesar Rp1,43 triliun. Selain itu, beban pokok turun jadi Rp825 miliar dari beban pokok tahun 2014 yang sebesar Rp852 miliar.

Sementara, rugi tahun berjalan yang didistribusikan ke entitas induk mencapai Rp58 miliar usai meraih laba 2014 yang sebesar Rp41 miliar.