Pertamina Usul Kuota Elpiji Bersubsidi Dipotong 400 Ribu Ton

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Selasa, 14/06/2016 18:15 WIB
Pertamina Usul Kuota Elpiji Bersubsidi Dipotong 400 Ribu Ton Pekerja menata tabung elpiji 3 kg di Surabaya, Jawa Timur, Selasa (22/9). PT Pertamina (Persero) mengusulkan agar pagu subsidi elpiji 3 kilogram (kg) tahun ini dipangkas 400 ribu ton dalam pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBNP) 2016. (Antara/Didik Suhartono)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Pertamina (Persero) mengusulkan agar pagu subsidi elpiji 3 kilogram (kg) tahun ini dipangkas 400 ribu ton dalam pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBNP) 2016.

Ahmad Bambang, Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina mengatakan, usulan pemangkasan subsidi itu mempertimbangkam realisasi volume konsumsi elpiji 3 kg yang kemungkinan besar tidak mencapai target 6,6 juta ton hingga akhir tahun. Pasalnya, dalam lima bulan terakhir penyaluran subsidi elpiji selalu di bawah kuota bulanan.

Pertamina mencatat, volume konsumsi elpiji bersubsidi hingga Mei 2016 sebesar 2,39 juta ton atau 36,21 persen dari total kuota 6,6 juta ton untuk sepanjang tahun ini.


"Sampai bulan Mei ini (penyalurannya) selalu di bawah kuota. Kami tak yakin bisa sesuai target juga. Paling nanti penyaluran bisa sesuai kuota di bulan Juni hingga Juli, saat lebaran," jelas Ahmad ditemui di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Selasa (14/6).

Untuk itu, lanjut Ahmad, Pertamina mengusulkan pengurangan volume elpiji bersubsidi sebesar 400 ribu ton menjadi 6,2 juta ton. Ia memastikan pemangkasan volume itu tak akan berpengaruh terhadap permintaan elpiji karena semakin banyak masyarakat yang beralih menggunakan elpiji non subsidi ukuran 5,5 kg.

Sayangnya, Ahmad Bambang tidak bisa mengungkapkan berapa potensi penghematan anggaran subsidi pemerintah jika usulan tersebut dikabulkan parlemen. "Seharusnya tidak akan mengganggu karena harga elpiji dunia juga masih rendah," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), I Gusti Nyoman Wiratmaja menjelaskan, pemerintah tidak akan menurunkan angka subsidi di dalam RAPBNP 2016. Pertimbangan utamanya adalah harga elpiji global yang sedang melandai.

"Karena harga pembelian LPG kan lebih kurang saat ini. Jadi belum ada rencana untuk menaikkan harga atau mengurangi subsidi, karena dengan harga dunia saat ini kan masih mild antara US$ 300 hingga US$ 320 per metrik ton, rata-rata di situ," jelasnya.

Menurutnya, secara otomatis subsidi turun dengan sendirinya seiring dengan penurunan harga komoditas energi tersebut. Ia menjelaskan, dulu saat harga elpiji di kisaran US$ 400 per metrik ton, pemerintah memberikan subsidi sekitar Rp4.500-Rp5.500 per kg.

Saat ini, lanjutnya, alokasi anggaran untuk subsidi elpiji turun drastis hampir Rp1.000 per kg menusul anjloknya harga bahan bakar gas itu di pasar internasional ke kisaran US$318 per metrik ton.

"Sekarang subsidi per kg bisa Rp3.500 per kg. Jadi dalam waktu dekat tetap begini, tidak ada rencana untuk menaikkan harga," katanya. (ags/ags)


BACA JUGA