APBI Nilai Pertamina Paling Rajin Investasi Panas Bumi

Gentur Putro Jati, CNN Indonesia | Senin, 27/06/2016 08:07 WIB
APBI Nilai Pertamina Paling Rajin Investasi Panas Bumi Sampai 2019 mendatang, Pertamina menargetkan bisa menghasilkan panas bumi untuk memproduksi 907 MW listrik dengan total investasi US$2,5 miliar. (REUTERS/Beawiharta).
Jakarta, CNN Indonesia -- Asosiasi Panas Bumi Indonesia (APBI) menilai PT Pertamina Geothermal Energy menjadi perusahaan yang paling getol menanamkan investasi dalam pengembangan panas bumi sepanjang tahun ini.

“Ukurannya bukan hanya kapasitas terpasang saat ini, namun komitmen dan realisasinya dalam pengembangan panas bumi. Sebagai tolok ukur nilai investasi setiap tahun, jumlah wilayah kerja yang dikelola hingga target commercial of date (COD),” ujar Abadi Purnomo, Ketua APBI, Senin (27/6).

Anak usaha PT Pertamina (Persero) telah melakukan survei panas bumi sejak 1974, dengan dibantu oleh perusahaan Selandia Baru. Baru pada 1983, PLTP Kamong unit 1 berkapasitas 30 MW beroperasi.


Meskipun Pertamina aktif melakukan eksplorasi , energi panas bumi kalah bersaing dengan bahan bakar minyak (BBM) dan batubara sehingga selama ini terkesan berjalan di tempat.

“Seiring dengan tingginya harga minyak, pada 2008 pemerintah minta agar Pertamina melakukan pengembangan secara lebih intensif. Hingga saat ini delapan wilayah kerja Pertamina dikerjakan secara paralel dengan investasi lebih dari U$100 juta per tahun untuk mengembangkan tambahan lebih dari 1.000 MW hingga 2020,” ungkap Abadi.

Berdasarkan data Pertamina, hingga kuartal I 2016, produksi panas bumi Pertamina mencapai 761,51 GWH atau naik 6,3 persen pada kuartal I 2016 dibandingkan periode sama tahun lalu. Pertamina hingga saat ini tercatat mengelola Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dengan kapasitas 435 Megawatt (MW) dan akan bertambah 105 MW hingga akhir 2016.

Tafif Azimudin, Sekretaris Perusahaan Pertamina Geothermal menjelaskan, tambahan kapasitas akan diperoleh dari tiga PLTP, yakni PLTP unit 3 di Ulubelu, Lampung berkapasitas 55 MW, PLTP Lahendong unit 5 di Sulawesi Utara berkapasitas 20 MW, dan unit satu PLTP Karaha di Jawa Barat berkapasitas 30 MW.

Proyek Ulubelu unit 3 dijadwalkan mulai beroperasi pada Agustus 2016 sesuai dengan target rencana tanggal COD. Sementara proyek Lahendong unit 5 dijadwalkan mulai beroperasi Desember 2016. Selain itu, PGE juga mulai mengoperasikan proyek Karaha Unit 1 berkapasitas 55 MW pada Desember 2016 sesuai dengan target dalam COD.

“Kami optimistis target 907 MW pada 2019 bisa tercapai karena sudah ada komitmen pengembangan semua. Untuk bisa mencapai target itu, Pertamina memperkirakan butuh investasi US$2,5 miliar,” kata dia.

Gus Irawan Pasaribu, Ketua Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyebutkan, pemerintah dan DPR telah sepakat menetapkan kontribusi panas bumi dalam bauran energi nasional mencapai 23 persen pada 2020.

Saat ini Indonesia baru memanfaatkan energi panas bumi sebesar 1.438,5 MW dari potensi yang dimiliki sebesar 29 ribu MW. Kapasitas pembangkit panas bumi saat ini berasal dari sembilan WKP yang telah beroperasi, yaitu Sibayak dengan kapasitas 12 MW, Ulubelu 110MW, Gunung Dalam 377 MW, Patuha 282 MW, Kamojang – Darajat 505 MW, Dieng 60 MW, Lahendong – Tompaso 80 MW dan Ulumbu 10 MW.