"Hanya ada satu hal yang dapat dilakukan, yakni menjawab skeptisisme itu dengan kerja keras dan koordinasi yang baik sehingga program ini berhasil sesuai harapan," ujar Direktur Eksekutif CITA Yustinus Prastowo melalui keterangan tertulis, Jumat (1/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, lanjutnya, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) harus tetap mawas diri dalam menyikapi tudingan sebagian kalangan yang menganggap program ini hanya akan menguntungkan segelintir orang atau kelompok tertentu. "Kompromi dengan pengemplang pajak, pertanda lembeknya pemerintah terhadap penghindar pajak, hingga prediksi bahwa partisipan maupun hasil yang tidak akan optimal," tuturnya.
"Di pihak lain, Presiden harus tegas terhadap semua pihak yang menyalahgunakan dan mengambil keuntungan pribadi (praktik moral hazard) terkait program Pengampunan Pajak ini," katanya.
Selain itu, ia juga mengingatkan pemerintah untuk bersiap menghadapi publik yang kemungkinan mengajukan uji materi terhadap Undang-Undang Pengampunan Pajak ke Mahkamah Konstitusi. Menurutnya, upaya semacam itu harus dihormati dan dilindungi di Indonesia yang katanya negara demokrasi.
Terkait repatriasi, ia meminta pemerintah memberi kesempatan pertama bagi bank-bank BUMN dan perusahaan-perusahaan swasta nasional untuk menampung dan mengelola potensi dana repatriasi. Hal itu juga harus dibarengi dengan perbaikan iklim investasi, kepastian hukum, kemudahan perizinan, debirokratisasi, pemangkasan biaya logistik, reformasi tata kelola keuangan dan perbankan.
"Ini adalah kesempatan emas terakhir sebelum penegakan hukum yang tegas dan keras diberlakukan. Tidak ada alasan untuk tidak berpartisipasi dan memanfaatkan, termasuk wajib menghindari upaya-upaya manipulatif yang akan merugikan negara," tandasnya. (ags)