Ketua GAPMMI, Adhi Lukman memperkirkaan, terjadi lonjakan permintaan produk makanan dan minuman hingga 30 persen sepanjang Mei-Juli lalu. Kenaikan tertinggi terjadi saat Ramadan dan menyumbang signifikan terhadap pertumbuhan industri makanan dan minuman.
Selain itu, lanjut Adhi, alpanya kenaikan harga produk makanan dan minuman pada tahun ini juga turut memperbaiki tingkat pertumbuhan industri. Terlebih, ada kenaikan upah minimum pekerja yang turut memperkuat daya beli masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia berharap tren pertumbuhan bisa berlanjut pada kuartal III meski saat ini masih ada kekhawatiran penurunan stok karena masih ada larangan melintas truk-truk logistik di jalur khusus mudik.
Sebagai informasi, proyeksi GAPMMI itu lebih optimistis dibandingkan dengan realiasi pertumbuhan industri makanan dan minuman kuartal I 2016 yang sebesar 7,55 persen. Kinerja industri pada Januari-Maret itu turut mendongkrak pertumbuhan industri non migas, yang sebesar 4,46 persen pada periode yang sama.
Di sisi lain, industri pengolahan non-migas menyumbang sebesar 18,41 persen terhadap PDB, di mana kontribusi terbesar diberikan oleh industri makanan dan minuman dengan porsi sebesar 31,5 persen. (ags/gen)