“Mengharapkan ekspor yang tinggi hari ini seperti mimpi di siang bolong karena memang tidak mungkin ekspor bisa tinggi,” tutur Kepala Bappenas merangkap Menteri PPN Bambang P.S. Brodjonegoro, Selasa (9/8).
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor nasional hingga akhir paruh pertama tahun ini negatif 3,13 persen. Sementara, pertumbuhan impor turun lebih dalam yaitu sebesar minus 4,04 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Guna menyiasati rendahnya harga komoditas, pemerintah perlu mendorong berkembangnya industri manufaktur dan jasa. Namun, pengembangan industri non-komoditas jelas membutuhkan waktu.
Di sisi lain, tahun ini pemerintah juga harus menghadapi perlambatan pertumbuhan investasi.
BPS mencatat, pertumbuhan investasi yang tercermin dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) hanya tumbuh sebesar 5,06 persen secara tahunan pada kuartal II tahun ini atau lebih rendah dari capaian kuartal sebelumnya 5,57 persen.
Upaya mendorong investasi tidak mudah karena upaya perbaikan iklim investasi memakan waktu. Selain itu, perlambatan kinerja perekonomian global juga masih berlanjut pada tahun ini yang berdampak negatif pada sumber investasi asing.
“Mengandalkan investasi memang idenya bagus karena itulah kami memperbaiki iklim investasi dan kami upayakan agar FDI (foreign direct investment/investasi asing langsung) banyak datang ke Indonesia,” ujarnya.
Melihat hal itu, Bambang menilai perekonomian tahun ini masih mengandalkan konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah yang berkualitas. (gen)