Aturan Modal Fintech Bakal Ciptakan Kompetisi Usaha Sehat

Christine Novita Nababan | CNN Indonesia
Jumat, 26 Agu 2016 16:27 WIB
Pelaku usaha fintech meyakini, batasan modal minimal akan memaksa pelaku usaha fintech untuk serius dalam mengembangkan bisnis layanan keuangan mereka. Pelaku usaha layanan keuangan berbasis teknologi atau financial technology (fintech) mengaku tidak keberatan dengan wacana pembatasan modal minimal sebesar Rp1 miliar - Rp 2 miliar untuk perusahaan fintech penyalur kredit atau pembiayaan. Batasan modal minimal malah dipercaya akan membuat kompetisi usaha yang sehat di industri fintech. (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pelaku usaha layanan keuangan berbasis teknologi atau financial technology (fintech) mengaku tidak keberatan dengan wacana pembatasan modal minimal sebesar Rp1 miliar - Rp 2 miliar untuk perusahaan fintech penyalur kredit atau pembiayaan. Batasan modal minimal malah dipercaya akan membuat kompetisi usaha yang sehat di industri fintech.

Teguh B Ariwibowo, Pendiri Pinjam.co.id mengatakan, batasan modal minimal memaksa pelaku usaha fintech untuk serius dalam mengembangkan bisnis layanan keuangan mereka. "Dengan demikian, tidak sembarangan orang mau bikin fintech dan merugikan masyarakat," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (26/8).

Sekadar informasi saja, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memang belum menerbitkan aturan main yang resmi di industri fintech. Jika tidak ada aral melintang, ketentuan ini baru akan keluar akhir tahun nanti.


Namun, Dumoly F Pardede, Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non Bank OJK menuturkan, aturan modal Rp1 miliar-Rp2 miliar akan tertuang, berlaku bagi perusahaan start up fintech dengan kegiatan kredit, pembiayaan, modal ventura, hingga peer to peer lending.

Selain batasan modal minimal, OJK juga akan mewajibkan perusahaan start up fintech untuk terdaftar dan diawasi oleh OJK. Tidak cuma itu, sebagai organisasi, perusahaan fintech juga harus siap dengan susunan pengurusnya, termasuk risk management layaknya institusi keuangan.

Teguh yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia (Amvesindo) mengaku telah menggarisbawahi poin-poin tersebut di atas untuk ditaati ketika aturan mainnya dirilis OJK, termasuk ketentuan agar basis data nasabah disimpan di Indonesia, dan kewajiban membuka kantor cabang (fisik) untuk melayani keluhan masyarakat.

"Kami mendukung OJK, karena kami ingin industri fintech ini berkembang. Kami ingin berperan meningkatkan inklusi keuangan, kepercayaan masyarakat, dan setara dengan lembaga keuangan pada umumnya," imbuh dia.

Pinjam.co.id sendiri, sambung Teguh, saat ini sudah mengantongi modal disetor lebih dari Rp2 miliar. Modal perseroan akan ditambah sesuai dengan perkembangan bisnisnya. Per 25 Agustus 2016, pembiayaan yang disalurkan Pinjam.co.id mencapai Rp5 miliar.

Pinjam.co.id merupakan perusahaan fintech penyalur pembiayaan berbasis kolateral. Fintech ini memberikan kredit ke masyarakat dengan menggunakan jaminan (gadai). Berbeda dengan Modalku.co.id yang berperan sebagai fintech dengan platform pinjam meminjam (peer to peer lending).

Kendati berbeda segmen, Reynold Wijaya, Pendiri Modalku.co.id juga menyambut hangat aturan main fintech terkait modal minimal. Bahkan, ia bercerita, benchmark modal untuk perusahaan fintech di Singapura minimal US$ 1 juta.

"Aturan modal akan mendukung kemajuan fintech. Di saat yang bersamaan, OJK juga menjaga kepentingan masyarakat sebagai konsumen. Dengan aturan dan permodalan, hanya pemain-pemain yang baik yang ada di bisnis ini," pungkasnya. (bir/bir)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER