Christine Novita Nababan
Lulusan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) tahun 2006 ini sempat menjadi reporter Kontan, sebelum bergabung di CNN Indonesia sebagai penulis.

Fintech, Ancaman atau Peluang Bagi Bank?

Christine Novita Nababan, CNN Indonesia | Senin, 29/08/2016 14:28 WIB
Fintech, Ancaman atau Peluang Bagi Bank? Sampai saat ini bank-bank besar masih malu-malu untuk ikut dalam kompetisi fintech. Entah karena gaptek atau malas berinovasi lantaran bisnisnya sudah tumbuh subur. (CNN Indonesia/Hani Nur Fajrina).
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia menjadi negara dengan pasar e-commerce terbesar di antara lima negara lain di Asia Tenggara yaitu Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Filipina. Hasil riset Euromonitor menyebutkan, nilai transaksi e-commerce di Indonesia tahun lalu mencapai US$1,1 miliar.

Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara pernah menyebut, potensi transaksi e-commerce tahun ini akan mencapai Rp300 triliun atau setara dengan US$25 miliar. Paling sedikit, pertumbuhan e-commerce menyentuh 60 persen hingga 70 persen per tahun.

Hal ini wajar karena dari 250 juta penduduk, ada 83,6 juta atau sepertiga di antaranya merupakan pengguna internet. Jumlahnya diperkirakan tembus 105 juta di tahun ini.


Jadi jangan heran apabila Indonesia menjadi surga bagi perkembangan industri e-commerce.

E-commerce ini tidak hanya menyentuh sektor ritel perdagangan barang dan jasa, seperti Zalora dan Blibli atau transportasi online, seperti Uber, Go-Jek, dan Grab. Tetapi juga layanan keuangan dengan platform yang berbeda-beda seperti penyalur pinjaman, gadai, alat pembayaran, peer to peer lending, pembanding produk dan layanan lembaga keuangan.

Di sektor keuangan, layanan ini dikenal sebagai financial technology atau fintech.

Hitung-hitungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), saat ini perintis fintech ada sekitar 30 pelaku. Enam di antaranya menawarkan produk asuransi dan sisanya banyak menawarkan pinjaman, peer to peer lending, dan jasa perantara.

Namun jumlah bank yang ikut terjun ke dalamnya hingga saat ini cuma dalam hitungan jari. Lalu apakah fintech merupakan ancaman atau tantangan bagi industri perbankan?

Salah satunya adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, melalui Mandiri Capital Indonesia (MCI). Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo menyebut, pembentukan MCI merupakan inisiatif perseroan untuk menangkap momentum pertumbuhan perusahaan startup di Indonesia, terutama di sektor keuangan.

PT Bank Tabungan Pensiun Nasional Tbk (BTPN) juga mulai membangun aplikasi keuangan bertajuk Jenius. Tak tanggung-tanggung, BTPN merogoh kocek sampai Rp500 miliar untuk investasi aplikasi pintarnya tersebut.

Lalu, apakah bank yang fokus pada pensiunan ini ingin menjadi salah satu pelaku fintech? Saya kira, belum sejauh ini. Upaya ini semata agar BTPN tak ketinggalan kereta dalam persaingan bisnis dengan fintech.

Malas Inovasi

PT Bank Amar Indonesia melalui Tunaiku malah sudah mulai menjalankan bisnis fintech-nya sejak tahun lalu, dan berkompetisi dengan pelaku fintech lainnya, seperti Modalku, Uangteman, Investree, dan lainnya.

Sayang, kebanyakan pelaku usaha sektor keuangan masih berdiam diri melihat fintech tumbuh dan berkembang. Entah, apakah karena gagap teknologi (gaptek) atau malas berinovasi lantaran sudah tumbuh subur.

Indeks Keuangan Inklusif Indonesia pada tahun 2014 silam hanya sebesar 36 persen atau jauh berada di bawah indeks negara Asia Tenggara lain seperti Thailand (78 persen) dan Malaysia (81 persen).

Padahal, dengan memperkuat bisnis fintech di Indonesia, cita-cita pemerintah untuk meningkatkan penetrasi pasar keuangan nasional akan terwujud. Melalui fintech, edukasi mengenai produk dan layanan keuangan jadi lebih menarik.

Selain itu, akses masyarakat menjadi lebih luas lagi sehingga akhirnya fintech akan mendongkrak daya beli masyarakat terhadap produk-produk keuangan.

Bukan tidak mungkin jika fintech akan menjadi gurita di bisnis keuangan di Indonesia. (gen)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS