Repatriasi Amnesti Pajak, Sektor Properti Mulai Dilirik

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Rabu, 05/10/2016 17:54 WIB
Repatriasi Amnesti Pajak, Sektor Properti Mulai Dilirik Jones Lang LaSalle menyatakan, sudah mulai banyak pertanyaan terhadap perusahaan properti untuk membeli perumahan atau residensial yang ada. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga konsultan properti, Jones Lang LaSalle (JLL) menyatakan belum melihat secara jelas aliran dana repatriasi dari program amnesti pajak ke investasi properti. Kendati demikian, minat investasi ke sektor properti tercatat terus menanjak.

Head of Advisory JLL Vivin Harsanto menyatakan, aliran dana repatriasi amnesti pajak ke sektor properti diprediksi baru dapat terlihat pada akhir tahun ini. Ia melihat dana repatriasi akan menjadi sentimen yang positif bagi sektor properti yang saat ini tengah melemah.

"Kami belum bisa lihat, kami belum bisa mengukur berapa persennya. Mungkin kami baru bisa perkirakan akhir tahun," ucap Vivin, Rabu (5/10).


Kendati demikian, Vivian tak memungkiri sudah mulai adanya aktivitas berupa pertanyaan-pertanyaan terhadap perusahaan properti untuk membeli perumahan atau residensial yang ada. Hal ini berbeda dibandingkan pada kuartal sebelumnya, di mana ketika perusahaan properti menawarkan produknya, masyarakat masih menunggu program amnesti pajak terlebih dahulu.

"Dari hal transaksi memang belum ada, tapi berupa lihat-lihat atau window shopping ada. Beda kalau kuartal-kuartal sebelumnya mereka masih tunggu amnesti pajak dulu gimana," ungkap Vivin.

JLL melihat dana repatriasi ini akan berdampak jangka panjang, yakni setelah enam hingga 12 bulan ke depan. Menurutnya, residensial dapat menjadi jenis properti yang menarik untuk berinvestasi, karena jenis properti tersebut biasanya dibeli perorangan. Berbeda dengan ritel atau perkantoran yang biasanya dibeli oleh perusahaan atau institusi.

"Kalau untuk residensial itu kan individual ya, artinya wajib pajak secara individu mereka bisa berinvestasi. Kalau perkantoran biasanya institusi kalau ritel juga institusi. Jadi sifatnya yang perorangan," terangnya.

Dengan demikian, JLL melihat dana repatriasi dapat mendongrak pertumbuhan residensial yang saat ini masih juga turun.

Berdasarkan data JLL, jumlah penawaran residensial, dalam hal ini kondominium pada kuartal III 2016 ini bertambah sebanyak 600 unit, sehingga saat ini jumlah unit penawaran residensial berjumlah sekitar 119 ribu unit. Sementara, jumlah permintaan sendiri sejak awal tahun hingga akhir kuartal III sebanyak 4.100 unit.

Adapun, dari tingkat penyerapannya sendiri hingga kuartal III hanya mencapai 70 persen. Angka tersebut turun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yakni 82 persen. Namun JLL memastikan angka 70 persen tersebut belum terbilang mengkhawatirkan.

"Itu menandai perusahaan pengembang menahan untuk merilis sampai melihat pasar mambaik. Tapi tidak perlu khawatir, 70 persen itu masih cukup sehat," jelasnya.

Selain itu, pertumbuhan permintaan untuk residensial ini juga ditambah dengan kebijakan Loan to Value oleh pemerintah yang melonggarkan Down Payment (DP). Kemudian, membaiknya nilai tukar rupiah juga akan menopang permintaan untuk residensial. (gir/ags)