Industri Makanan Minuman Nafsu Pasok Pusat Logistik Cikarang

Yuliyanna Fauzi, CNN Indonesia | Kamis, 20/10/2016 13:09 WIB
Industri Makanan Minuman Nafsu Pasok Pusat Logistik Cikarang Ilustrasi makanan dan minuman. (Thinkstock/Pixfly).
Jakarta, CNN Indonesia -- Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) menyatakan minat untuk memanfaatkan fasilitas Pusat Logistik Berikat (PLB). Salah satu PLB yang diincar pelaku usaha sektor makanan dan minuman tersebut adalah Cikarang Dry Port.

"Selama ini, PLB untuk industri makanan dan minuman belum ada. Kami sedang dorong. Sudah ada yang minat, misalnya ke Cikarang Dry Port," ungkap Adhi S Lukman, Ketua GAPMMI pada perhelatan Jakarta International Logistic Summit & Expo (JILSE), Kamis (20/10).

Namun demikian, Adhi mengusulkan, sebaiknya pemerintah membuat kawasan khusus untuk PLB industri mamin, sehingga tidak digabung dengan industri lain. "Karena untuk mamin tidak boleh dicampur dengan yang lain, misalnya elektronik atau otomotif," jelas Adhi.


Dari sisi efisiensi waktu, menurut dia, fasilitas PLB dapat memangkas waktu bongkar muat yang cukup signifikan. Jika sebelumnya pengusaha harus menyiapkan setidaknya tujuh hari untuk bongkar muat, kini bongkar muat dapat dilakukan hanya dalam satu hari, bahkan diprediksi bisa kurang dari itu.

"Sangat lumayan, karena sebelumnya harus bongkar muat dan proses pengujian itu lama. Kemudian, biaya untuk kapal sandar cukup besar. Belum lagi, kalau kapal besar, butuh sebulan untuk bongkar muat," imbuh dia.

Dari sisi biaya, perusahaan mamin juga disebut-sebut dapat menghemat biaya logistik. Setidaknya, sekitar 10-15 persen biaya logistik terhadap total biaya keseluruhan dapat ditekan.

"Jadi, PLB ini bagus untuk manajemen bahan baku, karena nanti semuanya free flow. Biaya dwelling time berkurang. Apalagi, bahan baku kita masih banyak yang impor," terang Adhi.

Dari pengalaman sebelumnya, pabrik harus mendistribusikan bahan baku sekitar 100 ton dari pelabuhan ke pabrik untuk satu kali impor. Padahal, belum tentu pabrik terkait siap menampung. Dengan PLB, distribusi bisa dicicil 10 ton per hari diangkut ke pabrik. Tentunya, menjadi lebih efisien dan hemat.

Tak hanya untuk impor, efisiensi juga akan terasa untuk ekspor. Sebagai gambaran saja, pabrik perlu menyiapkan waktu sekitar tiga hari untuk menyediakan pasokan produk sebelum ekspor.

Nah, dengan PLB, pabrik dapat langsung memasok produk mamin. Lalu, saat kapal bersandar, produk langsung dapat masuk kapal dan diekspor. (bir/gen)