Dilansir Reuters, Menteri Perminyakan Irak Jabar Ali al-Luaibi menjelaskan atas dasar itulah negaranya tak mau menyunat produksi minyak sesuai kesepakatan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) bulan September lalu.
Padahal sebelumnya, OPEC berharap bisa mengurangi produksi sebesar 700 ribu barel per hari. Dengan mundurnya Irak, yang merupakan negara produsen minyak terbesar ke-dua di dalam OPEC, efektivitas pemangkasan produksi ini mulai dipertanyakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain akibat sentimen pernyataan pejabat Irak, harga minyak dunia pada perdagangan Selasa (25/10) pagi juga terpengaruh pada kembali beroperasinya lapangan migas Buzzard di Inggris.
Hasilnya, harga Brent LCOc1 meluncur turun US$0,32 per barel, atau 0,6 persen ke angka US$51,46 per barel. Bahkan, harganya sempat menyentuh US$50,5 per barel di tengah sesi perdagangan.
Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) CLc1 menurut 0,7 persen ke angka US$50,52 per barel. Di pertengahan sesi perdagangan, harga WTI sempat merosot di bawah US$50 per barel dan menyentuh US$49,62 per barel.
(gen)