Ketua APRDI Denny R. Thaher menuturkan, reksa dana saham mendominasi sekitar 40-45 persen dari total dana kelolaan industri reksa dana secara nasional. Menurutnya, pencapaian tersebut sejalan dengan optimisme pertumbuhan industri sebesar 5 persen pada tahun ini.
Namun, lanjutnya, sampai saat ini masih banyak investor yang kerap melakukan pencairan (redemption) reksa dana. Hal itu menjadi tantangan bagi industri reksa dana untuk memberikan edukasi dan pemahaman kepada investor mengenai skema investasi jangka panjang ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menilai, investasi pada reksa dana saham masih berpotensi meningkat mengikuti tren kenaikan imbal hasil saham. Meskipun risikonya lebih tinggi, reksa dana saham diyakini akan memberikan imbal hasil yang jauh melampaui produk-produk reksa dana lainnya.
Pasalnya, kata Rudiyanto, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebagai acuan dari reksa dana saham baru mulai naik pada pertengahan tahun ini. Alhasil, banyak investor yang merasa ketinggalan momentum untuk membeli reksa dana karena indeks dianggap sudah terlalu ketinggian.
"Orang mau masuk sudah tinggi, jadi orang tunggu koreksi lagi. Untuk Januari sampai Mei masih di sana-sana saja," ungkap Panin
Meski demikian, ia mengakui ada kenaikan dana kelolaan (Asset Under Management/AUM) Panin sejak pertengahan tahun, di mana per September nilainya sebesar Rp10 triliun. Dana kelolaan tersebut sebagian besar ditempatkan dalam produk reksa dana saham, yakni sekitar 80 persen atau Rp7,9 triliun.
Menurutnya, masih banyak investor yang menunggu waktu yang tepat untuk berinvestasi karena mempertimbangkan berbagai sentimen eksternal, antara lain menunggu hasil Pemilu Presiden Amerika Serikat (AS) pada November mendatang.
"Pertengahan tahun sampai sekarang sudah mulai naik tapi masih tunggu waktu, jadi orang tunggu dulu deh, kalau waktunya pas orang akan masuk lagi. Dengan adanya amnesti pajak," jelasnya. (ags)