Seperti dilansir dari Reuters, selama jam perdagangan reguler, harga minyak mentah sempat mencapai posisi terendah dalam satu bulan sebelum ditutup melemah.
Kemudian American Petroleum Institute (API) melaporkan stok minyak mentah membengkak 9,3 juta barel hingga Oktober 28 lalu. Padahal, analis yang disurvei oleh Reuters hanya memperkirakan peningkatan 1 juta barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk diketahui, laporan API berdasarkan angka pada pelaporan sukarela oleh anggota, sedangkan EIA menggunakan sampel yang lebih besar. Jika data pemerintah menegaskan peningkatan stok tinggi, pedagang mengatakan harga minyak mentah bisa amblas.
Sementara harga minyak Brent mencapai titik terendah satu bulan di US$47,72 sebelum turun 47 sen pada US$48,14. Dalam perdagangan pasca-penyelesaian, harga jatuh ke US$47,86.
"Kami akan dengan mudah melihat WTI di harga US$45 jika laporan EIA menunjukkan kenaikan stok mengerikan seperti ini," kata Phil Davis, pedagang minyak mentah PSW Investments di Woodland Park, New Jersey.
Terakhir kali WTI diperdagangkan di sekitar level US$45 atau di bawah itu, adalah pada 27 September, sebelum Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) mengumumkan rencana pengurangan produksi pertama dalam delapan tahun untuk mengurangi pasokan berlebih minyak global.
Namun, harga mulai jatuh lagi karena lebih banyak anggota OPEC mengatakan mereka tidak mau atau tidak untuk memangkas produksi, menciptakan keraguan pada apa yang akan dilakukan ketika bertemu pada 30 November di Wina. Dokumen resmi OPEC pada Senin lalu menunjukkan kelompok itu membuat kemajuan pada rencana, namun hanya sedikit meyakinkan pedagang. (gir/gen)