"Asing boleh masuk 100 persen, tapi untuk pabrik saja, processing. Kalau memancing atau menangkap ikan itu tetap dilarang, 100 persen dilarang," kata Susi, Kamis (3/11).
Dibukanya peluang investasi tersebut menurut Susi untuk memenuhi kebutuhan alih teknologi bagi perusahaan Indonesia. Salah satu perusahaan perikanan asing yang sudah menyatakan minatnya langsung adalah perusahaan Rusia, Blackspace. Meskipun memiliki bisnis inti di sektor energi dan pertambangan, namun Blackspace berencana melebarkan sayapnya ke sektor perikanan dan akan memulainya di Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut pemilik maskapai Susi Air, Kementerian Kelautan dan Perikanan yang dipimpinnya juga mengalokasikan anggaran untuk membangun perekonomian pulau-pulau terluar di Indonesia. Dana yang dianggarkan oleh pemerintah disebutnya berkisar pada angka Rp1,5 Triliun untuk pembangunan fasilitas perikanan.
Hal ini menurut Susi merupakan salah satu bentuk perubahan yang dilakukan kementeriannya. Di mana sebelumnya masyarakat kerap kali melakukan transhipment atau bongkar muat di tengah laut yang memicu terjadinya praktek pencurian ikan ilegal.
"Jadi kita bangun pasar itu yang integrated fisheries development, cold storage ada, nelayan banyak, transportasi untuk angkut hasil tangkap ada, pasar juga dibanggun di TPI, jadi semua kebutuhan ada di satu tempat," kata dia. (gen)