Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi DKI Jakarta Fadjar Majardi mengungkapkan, usaha pertambangan inilah yang kemudian menahan laju pertumbuhan ekonomi di Kepulauan Seribu. Sejak tahun 2012 lalu, pertumbuhan ekonomi Kepulauan Seribu sangat rendah, yakni di bawah 1 persen.
"Kontraksi lapangan usaha pertambangan, yang memiliki pangsa pasar 77 persen itu, diprediksi sebagai penyebabnya," tutur Fadjar di Kepulauan Seribu, kemarin (13/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nah, karena kontribusinya yang besar itulah, perlambatan bisnis CNOOC ikut memengaruhi laju pertumbuhan perekonomian Kepulauan Seribu. Menurut Fadjar, Kepulauan Seribu berkontribusi 0,2 persen terhadap pertumbuhan ekonomi provinsi, yaitu DKI Jakarta.
Pulau-pulau itu terdiri dari 11 pulau pemukiman, antara lain, Pramuka dan Tidung, 5 pulau cagar alam, seperti Bokor dan Kotok. Tidak cuma itu, di Kepulauan Seribu juga terdapat 6 pulau bersejarah di antaranya, Onrust dan Cipir, serta 6 pulau resort lain, seperti Pantara dan Putri, termasuk 51 pulau pribadi.
Pulau-pulau itu sangat berpotensi menarik wisatawan. Pasalnya, kata Fadjar, Jakarta sudah memiliki modal awal dengan menjadi pangsa pasar kedua terbesar kedatangan orang asing, setelah Bali. Rata-rata orang asing itu tinggal di Jakarta selama dua hari dengan tujuan untuk bisnis. Sementara, Bali mampu membuat orang bertahan selama 3,48 hari.
"Pemerintah harus bisa memanfaatkan orang-orang yang berbisnis itu untuk sekalian berwisata. Karena, sektor maritim ini yang bisa menambah lamanya orang menginap. Ini berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi," imbuh dia.
Menurut Kepala Humas BI Perwakilan DKI Jakarta Rizky Utama, pemerintah harus bisa meningkatkan kualitas SDM agar mampu menjadi guide profesional. Pemerintah juga harus menyediakan infrastruktur transportasi yang mumpuni. Saat ini, akses transportasi ke Kepulauan Seribu dinilai mahal.
"Misalnya, ke Pulau Pantara, Rp700 ribu minimal lima orang, kalau sendiri sama dengan Rp3,5 juta. Orang kelas menengah saja berat," terang Rizky.
Selain itu, pemerintah juga diminta untuk menyediakan fasilitas keuangan di Kepulauan Seribu. Saat ini, hanya ada satu kantor bank yang terdapat di Pulau Pramuka, yaitu Bank DKI dan kapal bank berjalan milik BRI.
Rizky melanjutkan, promosi untuk menarik wisatawan juga harus ditingkatkan. Hal itu yang bertolak belakang dengan anggaran promosi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta yang terus menurun sejak 2014 hingga saat ini. Anggaran promosi tahun 2014 mencapai Rp199,2 miliar turun drastis menjadi Rp71,5 miliar di 2015. Dan hanya Rp10 miliar pada 2016.
Lihat juga:BUMN Bersinergi Kembangkan Desa Wisata Pinge |
Konsultan ini diharapkan bisa memperbaiki komentar negatif dari dunia internasional tentang Kepulauan Seribu yang ada di referensi wisata di dunia maya, seperti Trip Advisor.
Fadjar menambahkan, wisatawan mancanegara menjadi target pariwisata Indonesia untuk menambah devisa Indonesia. Tahun ini, pemerintah Indonesia menargetkan mendapatkan pemasukan dari wisatawan asing sebesar Rp170 triliun.
Nah, Kepulauan Seribu menjadi satu di antara 10 destinasi wisata prioritas di Indonesia yang diharapkan bisa meraup 12 juta wisatawan mancanegara. (bir)