Ancaman Proteksionisme Trump Bikin Indonesia Ketar-Ketir

Agust Supriadi, CNN Indonesia | Sabtu, 19/11/2016 22:32 WIB
Ancaman Proteksionisme Trump Bikin Indonesia Ketar-Ketir Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menganggap rencana proteksionisme Trump pada masa kampanye, bisa mempengaruhi kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2017. (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rencana Presiden Amerika Serikat terpilih, Donald Trump, melakukan pembatasan arus barang masuk ke Negeri Paman Sam membuat ketar-ketir Pemerintah Indonesia.

Adalah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution yang menganggap rencana proteksionisme Trump pada masa kampanye, bisa mempengaruhi kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2017.

"Secara umum bisa mempengaruhi, kalau dia lebih proteksionis, karena ekspor ke sana akan lebih sedikit," kata Darmin, Jumat (18/11) seperti dikutip dari Antara.


Menurut Darmin, kebijakan pembatasan arus barang Trump bisa memengaruhi kemampuan perdagangan internasional AS dengan China, Jepang maupun negara berkembang seperti Indonesia.

Padahal, kata Darmin, AS bersama China dan Jepang saat ini merupakan daerah tujuan utama ekspor Indonesia. Kondisi itu diyakini bisa memukul kinerja ekspor, yang selama periode 2016 masih dilanda kelesuan dan tidak bisa berkontribusi kepada pertumbuhan ekonomi nasional, akibat berkurangnya permintaan global dan turunnya harga komoditas.

"Kita belum bisa bilang ke siapa yang lebih kena (dampaknya). Pasti ada dampaknya, tapi tidak banyak," kata Darmin.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menyoroti perkembangan kondisi AS seusai terpilihnya pengusaha Donald Trump sebagai presiden ke-45. Fokus BI terutama terkait retorika politik Trump pada masa kampanye.

Pertama, ekspor Indonesia ke AS yang bisa terpengaruh jika AS benar-benar menerapkan kebijakan proteksionisme, karena pangsa ekspor Indonesia ke AS berkisar 10-11 persen.

Kedua, rencana proteksionisme itu juga bisa mempengaruhi hubungan dagang AS dengan China yang secara tidak langsung berdampak kepada negara berkembang di Asia, termasuk Indonesia.

Ketiga, ketidakpastian yang ada hingga masa inagurasi presiden AS bisa berdampak pada sistem keuangan global yang sangat tergantung pada pergerakan aliran modal (capital flow).

"Semoga menjelang inagurasi ada kepastian arah kebijakan (presiden AS baru), sehingga kita bisa merespon dengan lebih baik. Saat ini kita pastikan likuiditas di bank cukup dan bank bisa melakukan aktivitas mendorong kredit ke depan," kata Agus. (ags/ags)