Ia mencontohkan layaknya seperti manusia saja yang memiliki pengetahuan luas dan terlihat keren, namun tidak menambah tingkat produktivitasnya sehari-hari maka tidak akan dipandang keren dalam jangka waktu yang panjang, bahkan hanya terlihat dalam satu detik saja.
"Kalau brain tidak punya produktivitas hanya keren satu detik, tidak continue, tidak lanjut. Perekonomian juga sama, kalau tidak melakukan investasi untuk menaikkan produktivitas tidak akan tumbuh dan berkelanjutan. Suatu ekonomi tidak akan bertahan tanpa adanya peningkatan produktivitas karena itu adalah bottom line," ungkap Sri Mulyani, Rabu (23/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada yang menikmati makmur dan adil, ada yang makmur saja tapi belum adil, atau bahkan belum dua-duanya. Saya ingin membuat 200 juta lebih masyarakat Indonesia menikmati kedua-duanya, memberantas kemiskinan masih menjadi salah satu fokusnya," papar dia.
"Ada dua hal yang harus diwaspadai, perdagangan internasional lebih lemah dibandingkan dengan ekonomi dunia dalam 10 tahun terakhir. Dulu sebaliknya, pertumbuhan ekonomi di drive oleh perdagangan internasional," jelas Sri Mulyani.
Saat ini banyak negara yang tidak memiliki tujuan ekspor, terlebih lagi untuk negara penghasil komoditas di mana mencatatkan pertumbuhan ekspor yang negatif pada kuartal III tahun ini. Hal ini disebabkan jatuhnya harga komoditas, seperti batu bara dan minyak mentah.
"Saat ini runtuh hanya 1,5 persen sampai dua persen untuk perdagangan internasional," imbuhnya.
Namun, mulai bangkitnya harga batu bara belakangan ini dapat menjadi angin segar bagi sebagian pelaku usaha yang bergerak di sektor pertambangan. Artinya, kontraksi yang terjadi dalam usaha pertambangan, khususnya batu bara sudah dalam masa penyembuhan.
"Batu bara sudah mulai recover, banyak sektor terpengaruh, konstruksi salah satunya," kata dia.
Meski demikian, ia tak ingin Indonesia pesimis dengan kondisi yang tengah melanda perekonomian global saat ini. Ada sektor lain yang dapat menumbuhkembangkan perekonomian dalam negeri. Salah satunya, sektor teknologi dan komunikasi.
"Orang Indonesia adalah orang yang hebat, tantangan menguatkan adrenalin dan itu kenikmatan yang luar biasa. Sektor teknologi dan komunikasi bisa tumbuh tapi harus ditopang sektor primer dan sekunder," tandasnya. (gen)