Dalam seminar bertajuk Tantangan Pengelolaan APBN Dari Masa Ke Masa yang digelar di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (30/11), Boediono mengibaratkan krisis sebagai gempa, yang tidak bisa diprediksi kapan terjadinya, dimana dan seberapa besar dampaknya.
"Elemen-elemen kejut (element of surprise) akan tetap ada. Kita harus siap menghadapi elemen tersebut. Namun, kita juga harus mempertajam kemampuan kita melihat ke depan. Bukan hanya enam bulan atau setahun, tetapi beberapa tahun ke depan," ujar Boediono.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita perbaiki struktur ekonomi kita. Kalau tidak seimbang, maka akan gampang sekali digoyahkan. Memang, jangka panjang, tetapi harus diupayakan," katanya.
"Koordinasi dalam keadaan krisis semakin sulit. Saat normal saja, sulit. Biasanya semua kembali ke comfort zone-nya (zona nyamannya) masing-masing," terang Boediono.
Hal senada disampaikan Sri Mulyani Indrawati. Menurut mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu, ketika krisis terjadi, seorang pemimpin akan benar-benar diuji sejauh mana ia memiliki keberanian dan kemauan untuk melawan zona nyamannya sendiri.
"Kalau dalam kondisi krisis, pengambil kebijakan melawan comfort zone. Itu bagian paling tersulitnya. Bagaimana melawan intuisi mengamankan diri sendiri," tutur dia.
Sementara itu, Chatib Basri menekankan pentingnya kerja sama yang baik dalam forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Ia juga menekankan pentingnya komunikasi yang baik dengan dunia internasional, publik, dan termasuk parlemen.
"Kami tidak mungkin bisa memprediksi krisis. Saya sendiri (ketika menjabat menteri keuangan) selalu meminta untuk dilakukan stress test (uji tekanan). Apakah kita survive (bertahan) atau tidak," pungkasnya. (bir/gen)