Kuartal III, Industri Makanan-Minuman Tumbuh Nyaris 10 Persen

Gentur Putro Jati, CNN Indonesia | Sabtu, 03/12/2016 00:21 WIB
Kuartal III, Industri Makanan-Minuman Tumbuh Nyaris 10 Persen Sumbangan nilai ekspor produk makanan dan minuman termasuk minyak kelapa sawit pada Januari-September 2016 mencapai US$17,86 miliar. (CNN Indonesia/Safyra Primadhyta)
Jakarta, CNN Indonesia -- Industri makanan dan minuman nasional menunjukkan kinerja positif dengan tumbuh 9,82 persen setara dengan Rp192,69 triliun pada kuartal III 2016.

Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Panggah Susanto menjelaskan, tingginya pertumbuhan industri makanan dan minuman di saat ekonomi Indonesia tengah lesu disebabkan oleh masih tingginya permintaan masyarakat kelas menengah ke atas untuk produk-produk tersebut.

Industri makanan dan minuman juga mempunyai peranan penting dalam mendorong pertumbuhan industri nasional. Panggah mencatat, industri tersebut memberi kontribusi terbesar dalam mendorong Produk Domestik Bruto (PDB) industri non migas.


“Dengan pertumbuhan 9,82 persen, sektor ini menopang sebagian besar industri non migas dengan pertumbuhan mencapai 4,71 persen,” ungkap Panggah.

Sementara itu, sumbangan nilai ekspor produk makanan dan minuman termasuk minyak kelapa sawit pada Januari-September 2016 mencapai US$17,86 miliar.

Capaian ini membuat neraca perdagangan masih positif bila dibandingkan dengan nilai impornya pada periode yang sama sebesar US$6,81 miliar.

Namun, Panggah mengingatkan, perkembangan industri makanan dan minuman ke depan bakal menghadapi tantangan yang cukup berat. Khususnya dengan berlakunya kesepakatan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Oleh sebab itu, industri makanan dan minuman Indonesia harus siap dan mampu bersaing dengan produk-produk makanan dan minuman dari negara lain di dalam kawasan yang sama.

Sementara Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman mengatakan, asosiasi optimistis kinerja ekspor industri makanan dan minuman terus membaik pada tahun depan dan dapat menyamai angka realisasi ekspor 2015.

Keyakinan ini didorong oleh proyeksi membaiknya perekonomian global yang membuat harga jual bergerak positif serta meningkatnya produksi di dalam negeri.

“Untuk menopang kinerja, kami juga terus mencoba masuk ke negara-negara tujuan non tradisional. Bahkan, peluang kebutuhan produk halal akan turut memberikan kontribusi,” ujarnya.