“Pertamina dan Wika bisa menciptakan nilai tambah bagi negara. Meski bisnis utamanya bukan di kilang, saya yakin pasti bisa ditangani Wika,” kata Komaidi Notonegoro, pengamat energi dari Reforminer Institute di Jakarta, Kamis (8/12).
Menurut Komaidi, Wika harus menunjukkan kinerja yang baik dalam proyek kilang Balikpapan sehingga diharapkan bisa dilanjutkan untuk proyek RDMP lainnya. Selain Kilang Balikpapan, Pertamina juga akan merevitalisasi tiga kilang lainnya, yakni Kilang Cilacap, Jawa Tengah, Kilang Dumai di Riau, dan Kilang Balongan di Indramayu, Jawa Barat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suradi, Sekretaris Perusahaan Wika mengatakan, perusahaannya ditetapkan sebagai pemenang lelang pekerjaan penyiapan area pembangunan proyek RDMP refinery unit V Balikpapan dan pembangunan jetty konstruksi baru berdasarkan evaluasi administrasi, teknis, harga, kualifikasi dan verifikasi yang dilakukan Pertamina sesuai surat bernomor 025/LPJ/RDMP-RP/2016 pada 1 November 2016.
Setelah kesepakatan dengan Wika dibuat, Pertamina meminta pembangunan infrastruktur kilang bisa dimulai akhir Juli 2017 dan rampung akhir September 2019. Kilang Balikpapan saat ini memiliki kapasitas 260 ribu barel per hari (bph). Dengan adanya revitalisasi kapasitas kilang akan meningkat sebesar 100 ribu bph menjadi 360 ribu bph.
Saat rampung kilang Balikpapan akan mampu mengolah bahan bakar minyak (BBM) dengan research octane number (RON) di atas 92 dan mampu memproduksi BBM dengan standar kualitas euro 5.
“Produk utamanya nanti bisa produksi gasoline RON 92 ke atas. Pada akhirnya ada standar bisa mengolah bahan bakar dengan standar euro 5 di tahap kedua. Untuk tahap pertama masih euro 2,” jelas Rachmad. (gen)