"Kami meyakini bahwa peningkatan target tersebut adalah bentuk kepercayaan pemegang saham terhadap kinerja GMF yang terus bergerak ke arah positif," ujar Direktur Utama GMF Juliandra Nurtjahjo, seperti dilansir Antara, Jumat (30/12).
Optimisme kinerja kinclong itu dibuktikan dengan pencapaian revenue (pendapatan) yang hingga November 2016 tembus US$337 juta atau 91,6 persen dari target yang dicanangkan. Bahkan, net profit margin-nya sudah mencapai US$55,6 juta atau 120 persen dari target.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Julian mengungkapkan, kinerja positif di 2016 dan target kinerja 2017 menjadi landasan bagi GMF dalam mencapai visinya pada 2020 mendatang untuk menjadi 10 besar perusahaan perawatan pesawat di dunia.
Selain itu, ketersediaan kapasitas menjadi perhatian GMF karena pertumbuhan pasar perawatan pesawat yang sangat cepat. Namun dalam pengembangan fasilitas perawatan, GMF mempertimbangkan rencana Garuda Indonesia sebagai induk usaha dan customer utama, serta pemegang saham mayoritas GMF.
Salah satunya pengembangan kapasitas GMF di area Batam. Pemilihan Batam sebagai lokasi pengembangan bisnis didasari oleh aksesibilitas Batam yang dekat dengan pusat penerbangan regional Asia, yaitu Singapura serta faktor lain yang sangat mendukung.
Ditunjuknya GMF sebagai Pusat Logistik Berikat oleh Dirjen Bea dan Cukai pada Oktober 2016 lalu dinilai juga menjadi peluang bagi GMF untuk bisa mengembangkan bisnisnya melalui pengembangan Pusat Logistik Berikat tersebut di Batam.
"Dengan kemitraan strategis dan dukungan optimal dari pemerintah selama ini, kami yakin pengembangan kapasitas perawatan pesawat baik di Batam, maupun kawasan timur Indonesia dapat dilaksanakan tahun depan," pungkas Juliandra. (bir)