Harga BBM Bakal Bergejolak, BI Diprediksi Tahan Suku Bunga

Giras Pasopati, CNN Indonesia | Rabu, 04/01/2017 14:12 WIB
Harga BBM Bakal Bergejolak, BI Diprediksi Tahan Suku Bunga Bank Indonesia diramalkan menahan diri karena tekanan inflasi yang naik akan diperburuk oleh semakin besarnya ekspektasi kenaikan harga minyak. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penyesuaian harga barang diprediksi bakal mendongkrak tingkat inflasi pada tahun ini, yang ditambah dengan proyeksi gejolak harga minyak. Hal tersebut dinilai membuat Bank Indonesia (BI) tak memiliki banyak ruang untuk mengubah suku bunga acuan.

Ekonom Mandiri Sekuritas Leo Putra Rinaldy mengatakan peningkatan indeks harga konsumen (CPI) pada Desember 2016 sebesar 0,42 persen secara bulanan mencerminkan inflasi yang melambat dari 3,02 persen secara tahunan, sejalan dengan prediksi konsensus dan perkiraan.

“Musim liburan membuat biaya transportasi menjadi kontributor paling besar kepada inflasi bulanan. Sekali lagi, kami belum melihat adanya perubahan permintaan karena inflasi inti tercatat flat dan mencatatkan rekor paling rendah 3,07 persen secara tahunan dibandingkan dengan ekspektasi yang justru diprediksi naik. Inflasi telah melonggar sepanjang 2016 dari 3,95 persen secara tahunan pada akhir 2015,” ujarnya dalam riset, dikutip Rabu (4/1).

Ia menjelaskan, realisasi inflasi 2016 memang lebih rendah dari prediksi 3,3 persen. Angka tersebut terendah sejak 2009, didukung oleh harga BBM bersubsidi yang stabil ketika biaya minyak global sedang rendah, kebijakan impor pangan, dan permintaan domestik yang moderat.

“Kami memprediksi tingkat inflasi akan meningkat menjadi 4,2 persen pada 2017 karena penyesuaian harga barang-jasa yang diatur pemerintah [administered price]. Kenaikan tarif listrik yang sudah dimulai akan menjadi pendorong utama, dan dapat berkontribusi pada inflasi 0,8-1 poin pada akhir Juni 2017,” jelasnya.

Di sisi lain, menurutnya permintaan dapat menarik inflasi, yang dilihat dari inflasi inti, dan diprediksi akan tetap lemah di bawah 4 persen pada 2017 karena stagnannya konsumsi rumah tangga.

“Kami meyakini bahwa Bank Indonesia tidak lagi memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga acuan pada 2017. Tekanan inflasi yang naik akan diperburuk oleh semakin besarnya ekspektasi kenaikan harga minyak internasional yang berlanjut naik dan dapat menaikkan harga BBM domestik,” ungkapnya.

Sementara, ia menilai prospek untuk kenaikan suku bunga The Fed yang lebih agresif juga menimbulkan risiko pada nilai tukar rupiah karena volatilitas sektor keuangan. Ia mengaku tetap memprediksi suku bunga acuan reverse repo 7 hari (7DRRR) akan flat yaitu sebesar 4,75 persen pada 2017.

Ekonom Bahana Securities Fakhrul Fulvian memperkirakan inflasi pada akhir tahun ini bisa naik menjadi 3,8 persen, dengan adanya kemungkinan kenaikan harga BBM dan listrik.


"Pemerintah berencana mencabut subsidi untuk pelanggan 990 VA yang jumlahnya diperkirakan mencapai 18,8 juta pelanggan. Pencabutan subsidi ini akan dilakukan secara bertahap sebanyak tiga kali, yang dimulai pada awal tahun ini," jelasnya.

Namun demikian, ia menilai pemerintah masih sangat berhati-hati mengeksekusi rencana kenaikan harga ini karena pemerintah sangat menyadari pencabutan subsidi ini bakal mengkerek angka inflasi sepanjang tahun ini.

Padahal dalam rencana anggaran tahun ini, pemerintah menargetkan inflasi tidak akan melampaui 4 persen. Bila kenaikan harga listrik dan BBM tetap akan dilaksanakan, kementerian koordinator perekonomian akan mempersiapkan program pengendalian inflasi yang terfokus pada stabilisasi harga bahan kebutuhan pokok.

''Peran pemerintah untuk membenahi sisi suplai menjadi sangat penting, misalnya dengan membenahi jalur distribusi diharapkan bisa meminimalisasi dampak kenaikan harga BBM dan listrik," ungkap Fakhrul. (gir/gen)