Demi US$3,9 Miliar, Industri Petrokimia Disiapkan di Masela

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Senin, 23/01/2017 09:48 WIB
Demi US$3,9 Miliar, Industri Petrokimia Disiapkan di Masela Menteri Perindustrian mengklaim, industri petrokimia Masela bisa mengundang investasi senilai US$3,9 miliar dan menyerap 39 ribu tenaga kerja langsung. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perindustrian (Kemenperin) siap membangun pusat industri petrokimia untuk menyerap gas yang diproduksi dari blok Masela, mengingat tingginya potensi gas yang berasal dari Wilayah Kerja (WK) di Maluku tersebut.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengklaim, industri petrokimia Masela bisa mengundang investasi senilai US$3,9 miliar dan menyerap 39 ribu tenaga kerja langsung. Diharapkan, industri yang berada di dalamnya bisa memproduksi metanol dan bahan turunannya.

"Di tingkat nasional, pengoperasian industri petrokimia di blok Masela akan memberi nilai tambah sebesar US$2 miliar dan mampu mengurangi angka impor hingga US$1,4 miliar dari substitusi komoditas turunan gas alam dan metanol," ujar Airlangga melalui siaran pers dikutip Senin, (23/1).


Lebih lanjut ia mengatakan, pengoperasian blok Masela juga akan menambah pendapatan pajak sebesar US$250 juta. Selain itu, petrokimia diharapkan bisa menciptakan pertumbuhan ekonomi daerah sebesar 10 kali lipat dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar US$31 juta.

"Sehingga, utilisasi ladang gas Masela untuk pengembangan industri petrokimia sangat strategis dalam pengembangan industri dan perekonomian di wilayah timur Indonesia," tuturnya.

Melengkapi ucapan Airlangga, Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan, penanaman modal di industri petrokimia dibutuhkan karena belum ada lagi investasi di sektor ini selama 15 tahun terakhir.

Untuk memacu pengembangan industri petrokimia, maka harga gas juga perlu diperhatikan. Untungnya, instruksi itu sudah tertuang di dalam Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2016.

"Murahnya harga gas untuk sektor ini merupakan kunci agar investor mau berinvestasi di industri hulu petrokimia," ujar Sigit.

Sebelumnya, Kemenperin dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral meminta Inpex Corporation, selaku Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Masela, untuk mengalokasikan gas pipa sebesar 474 MMSCFD bagi beberapa perusahaan.

Perusahaan tersebut terdiri dari PT Pupuk Indonesia (Persero) dengan jumlah 240 MMSCFD, yang bisa digunakan untuk proyek Bintuni maupun pabrik baru di dekat blok Masela. Sementara itu, dua perusahaan lainnya adalah PT Kaltim Methanol Industry dengan alokasi 130 MMSCFD dan PT Elsoro Multi Pratama dengan alokasi 100 MMSCFD.

Dengan adanya alokasi tersebut, pemerintah meminta Inpex untuk memproduksi gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) sebesar 7,5 MTPA dan gas pipa sebanyak 474 MMSCFD. Di sisi lain, Inpex ingin menyalurkan gas pipa sebesar 150 MMSCFD dan LNG sebesar 9,5 MTPA. (gir/gir)