Sri Mulyani dan Dunia Masih Meraba Kebijakan Donald Trump

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Senin, 23/01/2017 19:04 WIB
Sri Mulyani dan Dunia Masih Meraba Kebijakan Donald Trump Menkeu Sri Mulyani menyebut pemerintah perlu melakukan observasi dan antisipasi terhadap seluruh arah kebijakan Trump dan reaksi pelaku pasar mengingat AS merupakan salah satu motor perekonomian global terbesar. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menilai pelaku pasar masih mencerna arah kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald J. Trump. Hal itu berpengaruh pada pergerakan nilai tukar dolar teradap mata uang negara lain, termasuk Indonesia.

Hari ini, nilai tukar rupiah ditutup menguat di pasar valuta asing (valas) ke Rp13.369 per dolar AS, atau naik 41 poin (0,31 persen) setelah bergerak di kisaran Rp13.344-Rp13.397.

"Kalau market bereaksi setiap hari juga. Mereka (pelaku pasar) kemarin excited kemudian hari ini dolar melemah sehingga mata uang di seluruh dunia menjadi relatif menguat. Saya rasa market sendiri masih dalam proses mencerna dan memahami itu artinya apa bagi mereka," tutur Sri Mulyani saat ditemui di Gedung Djuanda I Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Senin (23/1).


Menurut Sri Mulyani, dari pidato inaugurasi Trump tercermin bahwa Trump memberikan penekanan yang sangat besar pada kepentingan domestik AS dan seolah tidak selalu sama dengan kepentingan global. Nantinya, hal itu akan tercermin dari kebijakan yang akan diambil, misalnya dalam hal kebijakan perdagangan, investasi luar negeri, dan lainnya.

Karenanya, pemerintah perlu melakukan observasi dan antisipasi terhadap seluruh arah kebijakan Trump dan reaksi pelaku pasar mengingat AS merupakan salah satu motor perekonomian global terbesar.

Dari sisi domestik, kondisi ketidakpastian yang ada mengharuskan pemerintah terus memperkuat fundamental ekonomi, salah satunya dengan cara investasi. Di tengah tren penurunan investasi global, pemerintah harus menjaga momentum investasi jangka panjang di bidang sumber daya manusia, kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur.

"Kita harus investasi di dalam memperkuat ekonomi sehingga kita tidak terlalu mudah terombang-ombang dari statement market," ujarnya. (gen)