“Penurunan bunga kredit baru 60 hingga 70 basis poin. Kalau efisiensi bisa lebih baik dan likuiditas merata di perbankan, kami lihat bunga masih bisa turun. Namun perlu waktu sekitar 1-1,5 tahun," ujar Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo, Rabu (25/1).
Agus mengungkapkan, tingginya angka rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) sepanjang tahun lalu menjadi penyebab sulitnya bankir menurunkan bunga pinjamannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kalau naik 3,1 persen ada beberapa bank yang tingkat NPL-nya cukup tinggi, itu biasanya agak sulit bank turunkan bunga. Tapi kami lihat nanti dipertengahan tahun saat restruktursiasi semakin efektif dan NPL terjaga maka suku bunga akan turun," jelasnya.
Hati-hati Pangkas Bunga
Namun ia mengimbau perbankan untuk hati-hati menurunkan suku bunga di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global, khususnya yang saat ini terjadi di Amerika Serikat (AS).
Rencana The Fed menaikkan suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) yang diprediksi hingga dua kali tahun ini mampu mengerek nilai tukar dolar yang membuat suku bunga pinjaman dalam denominasi dolar menjadi mahal. Ini berpotensi membuat biaya dana yang dihimpun oleh perbankan juga ikut naik.
"Tahun ini ada kecenderungan dolar AS yang tinggi, maka juga harus diperhatikan. Karena itu jadi faktor kalau kami lakukan kajian di Februari mendatang," ujarnya. (gen)