"Saya kira tidak Januari, karena masih banyak ketidakpastian," tutur Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung, Jumat (27/1).
Bank sentral, kata Juda, masih meyakini tahun ini The Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunganya sebanyak dua kali. Paling cepat, kata Juda, kenaikan FFR akan diumumkan sebagai hasil Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada 13-14 Juni mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait besaran kenaikan, Juda meyakini suku bunga acuan AS pada Juni mendatang hanya akan naik 25 basis poin.
Secara terpisah, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Suahasil Nazara menegaskan pemerintah terus mengamati perkembangan rencana kenaikan suku bunga AS. Pasalnya, dampak kenaikan suku bunga AS akan merembet pada naiknya imbal hasil (yield) obligasi negara yang diterbitkan pemerintah.
Menurut Suahasil, selain besaran biaya utang, pemerintah juga harus memperhatikan besaran penerimaan pajak yang diterima, besaran kebutuhan belanja negara, dan kondisi pasar.
"Kami tidak mau memutuskan keluarkan saja surat utang sekarang sebelum suku bunga naik. Kalau kami keluarkan sekarang, apa kami sedang butuh pembiayaan sekarang? Kan ada pajak," kata Suahasil.
Sebagai informasi, Dewan Gubernur Bank Sentral AS bakal menggelar FOMC perdana untuk tahun 2017 pada tanggal 31 Januari - 1 Februari mendatang. (gen)