Terlebih, perubahan anggaran dasar menimbulkan wewenang berlebih bagi Wakil Direktur Utama. Sehingga, ada kemungkinan isu "matahari kembar" sudah dipersiapkan sejak saat itu.
Apalagi, setelah kejadian ini, Dewan Komisaris dan pemerintah kemudian menghapus posisi Wakil Direktur Utama. Tak ayal, ada indikasi bahwa kedua pihak tersebut secara tidak langsung mengaku telah menyusun struktur organisasi yang salah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terlepas dari sosok yang perlu bertanggungjawab atas kondisi ini, operasional Pertamina harus tetap jalan. Sejumlah pekerjaan rumah sepeninggal Dwi perlu dilanjutkan agar ambisi menjadi BUMN unggulan bisa tercapai.
Bagaimanapun, semuanya tergantung dengan sosok baru yang memimpin Pertamina, yang rencananya ditentukan sebulan mendatang. Jika sosok pengganti Dwi memang mumpuni, maka tak perlu lagi berdebat tentang siapa yang salah atau siapa yang benar. (gir/gen)
Dwi Soetjipto saat diperkenalkan oleh Menteri BUMN Rini Soemarno sebagai Dirut Pertamina, dua tahun lalu. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Kinerja Pertamina di bawah komando Dwi Soetjipto menunjukkan arah perbaikan selama dua tahun terakhir. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Ahmad Bambang dipercaya Menteri BUMN Rini Soemarno menjadi Wadirut Pertamina mulai Oktober 2016 lalu. (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)