Untuk diketahui, Allianz Indonesia merupakan gabungan dari perusahaan asuransi umum PT Asuransi Allianz Utama Indonesia, dengan bisnis asuransi jiwa PT Asuransi Allianz Life.
Head of Investment Allianz Indonesia Made Daryanti mengatakan, kondisi perekonomian Indonesia di tahun 2016 antara lain banyak dipengaruhi oleh kepercayaan masyarakat pada pemerintah, khususnya terkait kebijakan yang dikeluarkan oleh Presiden Joko Widodo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun pasar sempat mengalami koreksi pada kuartal empat 2016 akibat “Trump Effect”, Made menilai kinerja fund Allianz tetap menunjukkan hasil yang baik. Hal ini karena strategi portfolio investasi produk unit link didasari pada prinsip kehati-hatian.
Made menyatakan, manajemen memahami bahwa investasi merupakan bagian dari perencanaan keuangan nasabah Allianz. Dengan mengandalkan pengalaman dan kemampuan Allianz, khususnya dalam bidang pengelolaan dana, ia mengaku perusahaan berupaya memberikan return yang optimal.
“Dengan total fund yang dikelola Allianz Indonesia sebanyak 56 fund, hampir seluruh fund unggulan menunjukkan hasil yang positif,” kata Made.
Ia merinci, beberapa fund yang paling banyak dipilih oleh nasabah sepanjang 2016, adalah SmartLink Rupiah Equity Fund dengan dana kelolaan Rp8,4 triliun, SmartLink Rupiah Balanced Fund dengan dana kelolaan Rp2,4 triliun dan SmartLink Rupiah Fixed Income Fund dengan dana kelolaan sebesar Rp989 miliar.
Proyeksi 2017
Memasuki tahun 2017, Made memperkirakan bahwa kondisi ekonomi masih cukup kondusif yang tercermin pada asumsi dasar ekonomi makro RAPBN 2017, di antaranya adalah pertumbuhan ekonomi pada angka 5,3 persen dan inflasi pada 4 persen secara tahunan.
“Meskipun proyeksi pada tahun 2017 cukup optimistis, namun terdapat beberapa ketidakpastian yang bisa memberikan pengaruh pasar modal Indonesia, baik dari sisi internal maupun eksternal,” jelasnya.
“Sedangkan ketidakpastian dari sisi eksternal adalah kebijakan ekonomi dan moneter Amerika Serikat dibawah pemerintahan Donald Trump, dampak Brexit terhadap perekonomian Inggris dan Uni Eropa, dan kebijakan ekonomi China dalam menghadapi kebijakan-kebijakan yang akan dikeluarkan oleh Amerikat Serikat,” kata Made. (gir/gen)