BEI Tangkal Permainan Harga Saham di Detik Akhir Penutupan
Dinda Audriene Mutmainah | CNN Indonesia
Jumat, 10 Feb 2017 17:30 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Demi menjaga harga saham agar tak menjadi 'bulan-bulanan' investor dan menciptakan pembentukan harga secara transparan, Bursa Efek Indonesia (BEI) berniat mengubah mekanisme pra penutupan atau pre closing yang bersifat tertutup.
Direktur Utama BEI Tito Sulistio mengatakan, harga saham sering berubah drastis dan cenderung turun jelang penutupan. Adapun, jam pre closing untuk IHSG yakni, 15.50-16.00 WIB. Umumnya, investor memasang harga terendah dalam melakukan penjualan dan penawaran.
"Dalam 10 menit terakhir, kan hanya bisa order (pesan) dan kami tidak bisa lihat harga. Harganya tiba-tiba berapa dari sebelumnya berapa," ungkap Tito, Kamis (10/2).
Asal tahu saja, sebelumnya BEI tak menetapkan pre closing untuk perdagangan saham di Indonesia. Namun, BEI mengubah mekanisme tersebut dengan aturan pre closing. Dengan demikian, harga saham ditetapkan oleh sistem Jakarta Automated Trading System (JATS).
Seiring berjalannya waktu, algoritma atau pembentukan harga tersebut dapat dibaca oleh investor. Sehingga, meski menggunakan pre closing, investor tetap dapat memainkan harga saham emiten.
"Nah lama-kelamaan, terbentuknya harga berapa dapat dibaca, mereka paham," katanya.
Makanya, BEI mulai mengkaji dengan membandingkan praktiknya di negara-negara lain. Demi mengamankan kondisi ini, BEI akan mencontoh Singapura dan Thailand untuk mengikuti sistem tersebut.
Tito mencontohkan, sistem yang ada di Thailand menggunakan sistem random closing time. Artinya, negara tersebut sama dengan Indonesia yang menganut sistem pre closing atau tertutup.
Bedanya, jika Indonesia menentukan waktu penutupan secara tepat yaitu, pukul 16.00 WIB, Thailand melakukan penutupan secara acak dan tak menentu. Artinya, jika harga sudah terbentuk maka sistem bursa Thailand akan ditutup secara otomatis.
Sementara, untuk mekanisme di Singapura, sistemnya akan membuka apabila ada penawaran dan penjualan harga yang dinilai tidak wajar. Dengan membuka pre closing, maka pergerakan harga saham dapat kembali terlihat oleh investor. (bir/gen) Add
as a preferred
source on Google
Direktur Utama BEI Tito Sulistio mengatakan, harga saham sering berubah drastis dan cenderung turun jelang penutupan. Adapun, jam pre closing untuk IHSG yakni, 15.50-16.00 WIB. Umumnya, investor memasang harga terendah dalam melakukan penjualan dan penawaran.
"Dalam 10 menit terakhir, kan hanya bisa order (pesan) dan kami tidak bisa lihat harga. Harganya tiba-tiba berapa dari sebelumnya berapa," ungkap Tito, Kamis (10/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seiring berjalannya waktu, algoritma atau pembentukan harga tersebut dapat dibaca oleh investor. Sehingga, meski menggunakan pre closing, investor tetap dapat memainkan harga saham emiten.
Makanya, BEI mulai mengkaji dengan membandingkan praktiknya di negara-negara lain. Demi mengamankan kondisi ini, BEI akan mencontoh Singapura dan Thailand untuk mengikuti sistem tersebut.
Tito mencontohkan, sistem yang ada di Thailand menggunakan sistem random closing time. Artinya, negara tersebut sama dengan Indonesia yang menganut sistem pre closing atau tertutup.
Bedanya, jika Indonesia menentukan waktu penutupan secara tepat yaitu, pukul 16.00 WIB, Thailand melakukan penutupan secara acak dan tak menentu. Artinya, jika harga sudah terbentuk maka sistem bursa Thailand akan ditutup secara otomatis.
Sementara, untuk mekanisme di Singapura, sistemnya akan membuka apabila ada penawaran dan penjualan harga yang dinilai tidak wajar. Dengan membuka pre closing, maka pergerakan harga saham dapat kembali terlihat oleh investor. (bir/gen) Add
as a preferred source on Google