"Saya betul-betul mengharapkan Kementerian Perdagangan bersama-sama kita (Kementerian Keuangan) dalam menentukan tarif untuk melihat keseluruhan cycle-nya tidak hanya secara parsial atau secara komoditas," tutur Sri Mulyani, kemarin.
Sri Mulyani mencontohkan, jika proteksi dilakukan pada industri hilir tertentu, maka ada risiko konsumen menanggung harga yang leih mahal. Sementara, mesin penggerak utama perekonomian domestik adalah konsumsi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Oleh karena itu, kalau ingin menyampaikan tarif [bea masuk] naik atau turun tolong diperhatikan dari keseluruhan linkage-nya sehingga, pada akhirnya, bisa dibuat benefit dan cost-nya. Siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan," ujarnya.
"Kalau yang membayar [ongkos] itu adalah rakyat banyak, yang miskin, ya kita tidak akan menurunkan kemiskinan di bawah 10 persen. Kalau rakyat kita masih tetap miskin tidak akan punya daya beli sehingga kalaupun kita proteksi tidak ada yang membeli juga barang itu," ujarnya. (gir)