"Kami berpikir bagaimana caranya ASEAN sebagai saudara serumpun bisa bekerja sama, berkompetisi tetapi tetap harmoni. Kesepakatan yang saling membangun," kata Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio seperti dilansir dari Antara, Jumat (3/3).
Menurut Tito, jumlah perusahaan yang terdaftar di tujuh bursa efek di enam negara di kawasan Asia Tenggara mencapai sekitar 3.800 perusahaan yang menjadikannya terbesar di dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, nilai perdagangan pada bursa efek di kawasan ASEAN, kata dia, masih di bawah 1 persen dunia, tingkat kapitalisasi pasar hanya mencapai 3,1 persen dunia dan likuiditas yang baru mencapai 40 persen.
Selain itu, dalam pertemuan tersebut juga disepakati soal fasilitasi permasalahan yang timbul pada perusahaan di kawasan ASEAN yang terkadang tidak boleh melepaskan saham ke publik.
Upaya melakukan cross listing atau skema perusahaan untuk melantai di bursa negara lain di kawasan ASEAN juga dibahas. Hal itu menyangkut standarisasi dan pengakuan terhadap profesional untuk bisa merambah negara lain satu sama lain.
Terkait cross listing yang masih terkendala karena peraturan setiap negara berbeda, Tito menjelaskan hal tersebut masih dapat ditempuh dengan cara lain yakni melalui Sertifikat Penitipan Efek Indonesia atau Indonesian Depository Receipt (IDR).
"Kami coba listing 10 perusahaan di dua negara dulu, akan bertahap. Kami ingin secepatnya tetapi peraturan akan kami akali dengan listing IDR," imbuh Tito.
Hadir dalam pertemuan tersebut tujuh direktur utama atau perwakilan dari bursa efek di enam negara ASEAN yakni Indonesia, Singapura, Thailand, Filipina, Malaysia dan Vietnam (dua bursa efek). (gir)