Pada dua pekan lalu, sektor aneka industri juga menguat hingga 3 persen. Artinya, penguatan sektor aneka industri sudah terjadi selama dua pekan berturut-turut.
Analis NH Korindo Securities Bima Setiaji berpendapat, laporan keuangan PT Astra International Tbk (ASII) tahun 2016 yang berhasil membukukan kinerja yang positif membuat pelaku pasar tertarik untuk melakukan aksi beli pada saham tersebut dan mengerek sektor aneka industri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski pertumbuhannya tipis, tetapi kondisi ini berbanding terbalik dengan pencapaian kinerja keuangan Astra International tahun 2015, khususnya laba bersih yang tercatat turun hingga 24,63 persen.
Dengan demikian, harga saham Astra International kembali menguat sepanjang pekan kemarin. Harga saham Astra International naik hingga 4,67 persen atau lebih tinggi dibandingkan dua pekan lalu yang hanya 2,2 persen.
Emiten yang memiliki beragam lini bisnis ini membuka harga sahamnya pada awal pekan di level Rp8.025 per saham dan berakhir di level Rp8.400 per saham. Terpantau, harga sahamnya pada Kamis (2/3) lalu mencapai level terbarunya di level Rp8.475 per saham.
Sektor Properti Longsor
Sementara itu, sektor properti menempati posisi terbawah sepanjang pekan lalu. Indeks sektor properti anjlok 1,76 persen menjadi 507,951 dari sebelumnya 517,048.
Jika dilihat dari pekan sebelumnya, sektor properti memang terus mengalami pelemahan. Bima menilai, sektor properti terkena imbas negatif dari rencana kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini.
"Properti kan sensitif dengan suku bunga, kalau The Fed menaikan suku bunga, Bank Indonesia (BI) pasti mengkaji untuk menaikan suku bunga juga," tutur Bima.
Seperti diketahui, Gubernur The Fed Janet Yellen memberikan isyarat menaikan suku bunga The Fed jika data tenaga kerja dan data ekonomi di Amerika Serikat (AS) lainnya menguat. Hal itu akan diputuskan pada pertemuan yang diadakan 14-15 Maret mendatang.
Selain karena suku bunga, investor juga dinilai masih menunggu (wait and see) dengan hasil pemilihan kepala daerah (Pilkada) di DKI Jakarta. Mayoritas investor menahan untuk berinvestasi dalam sektor properti sembari menunggu kebijakan baru dari pejabat DKI Jakarta yang baru nantinya.
"Properti dan politik pengaruhnya kencang. Pengembang juga menunggu gubernur yang baru nanti kebijakan seperti apa," tandasnya. (gir)