Indosat Laba Rp1,1 Triliun di 2016

Giras Pasopati, CNN Indonesia | Rabu, 15/03/2017 17:20 WIB
Indosat Laba Rp1,1 Triliun di 2016 Indosat mencatat keuntungan atas selisih kurs bersih di 2016 sebesar Rp273,8 miliar, berbalik rugi kurs bersih senilai Rp1,29 triliun pada 2015. (CNN Indonesia/Susetyo Dwi Prihadi)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Indosat Tbk (ISAT) berhasil memperbaiki kinerja keuangannya sepanjang tahun lalu. Perusahaan jasa komunikasi ini mampu meraup laba bersih Rp1,1 triliun pada 2016, berbalik dari rugi bersih Rp1,3 triliun di tahun sebelumnya karena kenaikan pendapatan dan untung selisih kurs.

"Promosi data centric Indosat Ooredoo mendapat sambutan baik yang telah dibuktikan dengan kuatnya pertumbuhan pendapatan konsolidasian, 9,0 persen terhadap tahun 2015, dengan total pendapatan sebesar Rp29,2 triliun," tulis Investor Relations & Corporate Secretary Indosat dalam memo kepada pemegang saham, Rabu (15/3).

Manajemen menjelaskan, tingginya pertumbuhan pendapatan selular sebesar 10,0 persen terhadap tahun 2015 utamanya dikontribusi oleh pendapatan data yang tumbuh kuat sebesar 46,7 persen terhadap tahun 2015.


Kontribusi pendapatan data, telepon, SMS dan Value Added Service (VAS) terhadap pendapatan selular masing-masing sebesar 43 persen, 32 persen, 21 persen dan 5 persen. 

Di sisi lain, perusahaan juga terbantu dengan keuntungan atas selisih kurs bersih di tahun 2016 sebesar Rp273,8 miliar, yang berbalik dari kerugian selisih kurs bersih senilai Rp1,29 triliun pada tahun 2015. 

Hal itu disebabkan oleh apresiasi rupiah terhadap dolar AS di tahun 2016 dibandingkan depresiasi rupiah di tahun 2015 terhadap tingkat nilai tukar di akhir tahun sebelumnya. Hal itu sukses menekan beban perseroan.

Dari sisi beban, Indosat mencatat Rp25,24 triliun pada 2016, meningkat sebesar Rp837,7 miliar atau 3,4 persen dibandingkan tahun 2015. Peningkatan ini utamanya dikontribusi oleh beban jasa telekomunikasi, depresiasi dan amortisasi, beban pemasaran, beban karyawan serta beban umum dan administrasi.

Sementara, perusahaan membukukan beban lain-lain bersih sebesar Rp2,14 triliun, turun sebesar Rp2 triliun miliar atau 48,3 persen dibandingkan posisi beban yang dicatat di tahun 2015.

"Terutama disebabkan oleh peningkatan laba selisih kurs bersih dan penurunan biaya keuangan," jelas manajemen.

Sepanjang 2016, perseroan menggelontorkan belanja modal sebesar Rp7,29 triliun, naik sebesar 0,8 persen dibandingkan tahun 2015. Dana tersebut berasal dari kas perseroan.

Dari jumlah tersebut, sekitar 88,4 persen dialokasikan bagi bisnis selular, yang utamanya untuk mendukung permintaan layanan data. Sementara sisanya dialokasikan untuk pengadaan barang modal untuk MIDI, infrastuktur dan IT.