Pembatasan Harga jadi Jurus Baru Jokowi Redam Inflasi Pangan

Yuliyanna Fauzi, CNN Indonesia | Rabu, 05/04/2017 08:51 WIB
Pembatasan Harga jadi Jurus Baru Jokowi Redam Inflasi Pangan BPS mencatat deflasi sebesar 0,02 persen yang terutama disumbangkan oleh penurunan harga pangan, khususnya komoditas cabai dan bawang merang. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah mengaku masih akan mendorong penurunan harga pangan guna mengamankan laju inflasi sesuai target. Penurunan harga pangan, antara lain akan didorong pada komoditas pangan, seperti gula pasir, minyak goreng, serta daging sapi.

Pada Maret lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi sebesar 0,02 persen yang terutama disumbangkan oleh penurunan harga pangan, khususnya komoditas cabai dan bawang merang. Alhasil, laju inflasi secara tahunan (year to date/ytd) tercatat sebesar 1,19 persen dan laju inflasi tahunan (year on year) tercatat sebesar 3,61 persen.

Menteri Koordianator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengungkapkan, pemerintah tak ingin berpuas diri, meski telah mampu mengamankan ketersediaan pasokan pangan.



"Kami tahu (harga) pangan sedang turun, tapi malah untuk April sedang kami siapkan langkah-langkah baru lagi. Karena masih ada komoditas pangan yang bisa didorong turun (harganya)," ujar Darmin, kemarin.

Kendati enggan merinci langkah yang akan dilakukan pemerintah untuk menekan laju inflasi, Darmin menilai, penurunan harga masih berpotensi dilakukan pada sejumlah komiditas seperti gula pasir, minyak goreng, dan daging sapi. Sedangkan, komoditas pangan lainnya, seperti beras, menurut dia, perlu dijaga kestabilan harganya.

Jika strategi pemerintah dalam mengatur harga pangan dapat terealisasi, Darmin pun yakin target inflasi pemerintah pada tahun ini dikisaran 4 persen dapat tercapai.

"Kalau kami bisa kendalikan harga pangan tidak naik atau beberapa kami arahkan turun, targetnya masih di 4 persen," imbuh Darmin.

Senada dengan Darmin, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menjelaskan, pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah antara lain mengamankan ketersediaan pasokan dan kestabilan harga jelang Hari Raya Idul Fitri di Juni 2017 hingga peringatan Hari Raya Idul Adha pada September 2017 mendatang.

Sejauh ini, menurut Enggar, pasokan beras dinilai sangat berlebih yang diperkirakan mencapai sekitar 2 juta ton. Pasokan tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan beras masyarakat hingga perayaan Idul Adha mendatang. Selain beras, pasokan bawang merah juga dinilai cukup hingga Idul Fitri mendatang.

Enggar memastikan, harga pangan seperti gula pasir, minyak goreng, dan daging sapi akan stabil seiring dengan kebijakan pemerintah terkait penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk tiga komoditas pangan tersebut. Adapun HET gula pasir ditetapkan sebesar Rp12.500 per kilogram (kg), HET minyak goreng Rp11 ribu per kg, dan HET daging sapi Rp80 ribu per kg.

"Nanti kami akan membentuk harga acuan untuk telur ayam dan daging ayam sesuai dengan aspirasi dari peternak ayam yang kemarin melapor ke kami, sudah kami bahas," kata Enggar.

Namun begitu, Enggar belum membagi berapa kisaran HET untuk telur ayam dan daging ayam tersebut. Enggar memastikan, seperti halnya HET untuk tiga komoditas yang sudah diatur, pemerintah akan menentukan harga acuan dengan mempertimbangkan harga di tingkat produsen sampai ke distributor.