"Suara parlemen akan didengar dan dipertimbangkan oleh komisi UE. Ini mengganggu, pendapatnya tidak benar," tegas Fadhil.
Namun sebenarnya, Fadhil mengklaim, mayoritas ekspor turunan sawit ke UE sendiri lebih banyak berupa produk makanan dan minuman (mamin). Menurutnya, rata-rata jumlah ekspor CPO ke UE sebanyak empat juta ton atau setara dengan 20 persen dari total ekspor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mengaku tidak khawatir dengan pendapat parlemen UE dan rekomendasi yang melarang biodisel berbahan sawit. Sejauh ini, jumlah ekspor CPO ke Eropa yang dilakukan Astra Agro sendiri terbilang kecil. Sehingga, hal itu tidak akan berpengaruh signifikan dengan penjualan perusahaan ke depannya.
Hingga akhir tahun lalu, perusahaan masih fokus melakukan ekspor ke Filipina, China, India, dan Pakistan. Menurut Widya, apa yang dipermasalahkan oleh Parlemen Eropa sebenarnya hanya karena soal persaingan atau perang dagang semata.
"Itu perang dagang, karena sawit sendiri paling efisien diantara minyak nabati lainnya," imbuhnya.