Tekan Impor, Gas Masela Diminta Hasilkan Subtitusi LPG

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Rabu, 03/05/2017 11:03 WIB
Tekan Impor, Gas Masela Diminta Hasilkan Subtitusi LPG Produksi Dimethyl Ether (DME) diharapkan dapat menekan impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang setiap tahunnya meningkat. (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berharap produksi gas dari blok Masela sebagian besar bisa dikembangkan untuk produk Dimethyl Ether (DME). Produksi DME diharapkan dapat menekan impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang setiap tahunnya meningkat.

DME merupakan turunan dari metanol dan memiliki fisik menyerupai LPG. Dengan demikian, produk tersebut dapat menjadi substitusi produk LPG.

Direktur Industri Kimia Dasar Direktorat Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kemenperin Muhammad Khayam mengatakan, produksi DME bisa menekan impor LPG yang meningkat tiap tahunnya. Pada tahun ini, impor LPG diperkirakan sebesar 5 juta ton, lebih besar dibanding tahun lalu sebesar 4,3 juta ton.


"Kami memang serius untuk mengembangkan DME sebagai pengganti LPG. Jadi, LPG yang kami banyak impor dari luar itu bisa dipasok dari dalam negeri," jelas Khayam kepada CNNIndonesia.com, dikutip Rabu (3/5).

Khayam menjelaskan, menyalurkan gas produk DME juga dianggapnya lebih menguntungkan bagi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Masela, Inpex Corporation, dibanding memproduksi gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG). Pasalnya, saat ini harga LNG tengah melandai dan trennya diperkirakan akan berlanjut dalam beberapa tahun ke depan.

"Memang neraca gas kita juga defisit mulai 2019, sehingga kita butuh LNG. Kami malah memperkirakan, defisit ini malah sebentar," lanjutnya.

Sebagai langkah awal, alokasi gas Masela bagi PT Pertamina (Persero) rencananya akan digunakan sebagai bahan baku metanol yang kemudian diturunkan ke produk DME. Guna membantu pengembangan tersebut, Khayam menyebut PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) juga akan bergabung sebagai calon penyerap gas pipa Masela.

Dengan demikian, PGN akan menjadi perusahaan ke-lima yang menyerap gas dari Wilayah Kerja (WK) migas di Laut Arafuru tersebut.

Sebelumnya, Kemenperin berharap alokasi gas pipa Masela bisa diberikan kepada tiga perusahaan yaitu PT Pupuk Indonesia (Persero) sebesar 240 MMSCFD, PT Kaltim Methanol Industry dengan alokasi 130 MMSCFD, dan PT Elsoro Multi Pratama dengan alokasi 100 MMSCFD. Selain itu, Pertamina juga diharapkan mau menyerap gas pipa Masela dengan volume mencapai 200 MMSCFD.

"Kami ingin sinergi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) serius mengembangkan DME tersebut," paparnya.

Kendati begitu, menurut informasi terakhir yang didapatnya, alokasi gas pipa Masela maksimal masih sebesar 474 MMSCFD dengan kapasitas kilang diperkirakan masih sebesar 9,5 MTPA. Dengan kata lain, tidak akan ada tambahan bagi alokasi gas pipa dari perencanaan sebelumnya.

"Apakah nanti 474 MMSCFD dipotong, saya tidak mengerti karena itu kewenangannya di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Kami ingin kalau bisnis ini dalam jangka panjang tidak menarik, kenapa tidak Inpex dan Shell alokasikan untuk petrochemical saja?" lanjutnya.

Sebagai informasi, alokasi gas pipa Masela merupakan salah satu poin penentu kapasitas kilang LNG yang akan dibangun Inpex Corporation untuk memproses gas dari Masela. Sebelumnya, pemerintah memberikan dua opsi pembangunan kilang, yaitu kilang LNG sebesar 7,5 MTPA ditambah gas pipa 474 MMSCFD atau kilang LNG sebesar 9,5 MTPA ditambah gas pipa sebesar 150 MMSCFD.

Untuk menentukan kapasitas tersebut, pemerintah kini tengah memberikan waktu bagi Inpex untuk melakukan studi pre Front End Engineering Design (FEED) dalam jangka waktu enam bulan.