PLN Akan Teken Perjanjian Jual Beli Gas PLTGU Jawa 1

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Selasa, 09/05/2017 09:40 WIB
PLN dan BP telah menyepakati pasokan dan harga pembelian gas. Menteri ESDM menyetujui alokasi sebanyak 16 kargo dari sebelumnya, 44 kargo. PLN dan BP telah menyepakati pasokan dan harga pembelian gas. Menteri ESDM menyetujui alokasi sebanyak 16 kargo dari sebelumnya, 44 kargo. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT PLN (Persero) mengklaim telah menyelesaikan dokumen Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) dengan British Petroleum (BP) Berau Ltd untuk memasok Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Jawa 1. Jika tidak ada aral melintang, seharusnya, perjanjian tersebut sudah bisa dilakukan dalam waktu dekat ini.

Kepala Divisi Minyak dan Gas PLN Chairani Rachmatullah mengatakan, saat ini, penandatangan masih menunggu waktu yang tepat menyesuaikan dengan kesediaan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

"Hanya menyesuaikan waktu untuk selebrasi penandatanganan di depan Menteri ESDM (Ignasius Jonan) sesuai permintaan Kementerian ESDM," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (9/5).


Direktur Pengadaan PLN Supangkat Iwan Santoso menuturkan, PLN dan BP telah menyepakati pasokan dan harga pembelian gas. Menurut pengakuannya, Menteri ESDM telah menyetujui alokasi sebanyak 16 kargo setelah sempat melakukan kontrak pembelian gas dengan BP sebanyak 44 kargo.

Adapun, ia melanjutkan, harga gas yang ditetapkan sebesar 11,25 persen dari harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) ditambah US$0,4 per MMBTU. Harga ini dinilai sesuai dengan beleid terbaru pemerintah soal pembelian gas bagi pembangkit, yaitu Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2017, di mana harga gas bagi pembangkit dibanderol paling banyak 11,5 persen dari ICP.

Ia juga bilang, harga tersebut jauh lebih efisien dibandingkan pembelian gas hasil regasifikasi gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) milik PT Nusantara Regas. "Yang paling murah memang yang ini," tegasnya.

Sebagai informasi, PLTGU Jawa 1 akan digarap oleh konsorsium PT Pertamina (Persero), Marubeni Corporation, dan Sojitz Corporation dengan kapasitas sebesar 2x800 Megawatt (MW). Proyek ini digadang sebagai pembangkit listrik berbasis gas terbesar di Asia Tenggara dan pembangkit kedua di dunia yang mengintegrasikan Floating Storage Regasification Unit (FSRU) dengan PLTGU.

Proyek senilai US$2 miliar ini akan dibiayai oleh konsorsium Japan Bank for International Coorporation (JBIC), Nippon Export and Investment Insurance (NEXI) dan Asian Development Bank (ADB). Pelaksanaan perjanjian jual beli listrik (Power Purchase Agreement/PPA) sendiri sudah dilakukan pada bulan Januari silam.
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK