"Kami melihat bahwa (proyeksi kurs rupiah) BI sedikit lebih kuat posisinya (dari proyeksi pemerintah). Tapi, tentu ini dalam banyak hal dibantu dengan kinerja capital inflow dan kinerja domestik," ujar Gubernur BI Agus Martowardojo di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Selasa (6/6).
Peningkatan capital inflow, ia melanjutkan, akan berasal dari sentimen positif pertumbuhan investasi yang masuk ke Tanah Air dan perbaikan harga komoditas di pasar dunia di tahun depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ke depan, pergerakan ekonomi tetap stabil. Namun, dari sisi global, mesti mewaspadai kenaikan Fed Fund Rate dan turunnya neraca keuangan The Fed," katanya.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai, kurs rupiah yang tertuang di R-APBN 2018 telah diperkirakan dengan mempertimbangkan sejumlah sentimen, khususnya pengaruh dari pertumbuhan ekonomi global.
"Kami lihat, likuiditas global akan sedikit tertekan sehingga akan memberi sentimen pada arus modal. Namun, Indonesia dengan rating layak investasi dan konsisten dari sisi makro ekonomi serta reformasi kebijakan bakal memberikan daya tarik positif," terang dia.
Makanya, sambung dia, pemerintah akan menjaga kurs rupiah di kisaran Rp13.500 sampai Rp13.800 per dolar AS. “Kisaran ini kami anggap bisa memberikan dampak positif bagi ekonomi Indonesia," imbuh mantan direktur pelaksana Bank Dunia tersebut.
"Ada tekanan eksternal dari Fed Fund Rate dan perubahan harga komoditas. Perubahan harga komoditas bisa menekan ekspor, sehingga pengaruh ke penguatan kurs," imbuh dia.
Meski demikian, Bhima melihat, penetrasi kurs rupiah tahun depan masih mungkin membaik bila pemerintah bisa meningkatkan investasi asing ke luar negeri. Adapun, ia memperkirakan, investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) mampu menyentuh peningkatan 5 persen sampai 7 persen.