Kementerian ESDM: Jakarta Krisis Air Bersih

Christine Novita Nababan, CNN Indonesia | Minggu, 11/06/2017 07:19 WIB
Kementerian ESDM: Jakarta Krisis Air Bersih Jakarta Utara tercatat sebagai wilayah terparah. CAT Jakarta Utara mengandung unsur besi dengan kadar yang tinggi serta Natrium, dan Klorida. (CNN Indonesia/Gautama Padmacinta).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut 80 persen air tanah di wilayah Cekungan Air Tanah (CAT) Jakarta mengalami krisis air bersih atau tidak memenuhi standar Menteri Kesehatan Nomor 492 Tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum.

Mengutip ANTARA, Sabtu (10/6), Jakarta Utara tercatat sebagai wilayah terparah. CAT Jakarta Utara mengandung unsur Fe (besi) dengan kadar yang tinggi serta kandungan Na (Natrium), Cl (Klorida), TDS (Total Disolve Solid) dan DHL (Daya Hantar Listrik) yang tinggi akibat adanya pengaruh dari intrusi air asin.

Hasil pemantauan yang dilakukan oleh Badan Geologi melalui Balai Konservasi Air Tanah, dalam dua tahun ke belakang dari 200 titik sumur pengamatan (sumur pantau, sumur produksi, sumur gali dan sumur pantek) menunjukkan bahwa sekitar 80 persen air tanah di wilayah Cekungan Air Tanah (CAT) Jakarta tidak memenuhi standar Persyaratan Kualitas Air Minum.



Sedangkan, di bagian Selatan, CAT Jakarta yang mengakibatkan air tanah menjadi tidak layak minum adalah dominasi unsur logam, seperti Mn (Mangan), Fe (besi) dan Pb (Timbal).

Tak hanya itu, permasalahan Jakarta bertambah dengan penurunan muka tanah. Dari hasil pemantauan muka tanah (amblasan tanah) dengan mengukur secara visual dan menggunakan alat geodetic memperlihatkan bahwa secara umum laju penurunan tanah di wilayah CAT Jakarta berkisar antara 0 - 18,2 cm/tahun dengan lokasi yang memiliki laju penurunan tanah paling cepat, yaitu di daerah Ancol, Pademangan dan Muara Baru- Jakarta Utara.

Namun, di sisi lain terdapat anomali di beberapa titik lokasi patok pengamatan yang mengalami kenaikan. Hal ini menjadi hal menarik untuk diteliti lebih lanjut.

Menurut Badan Geologi, penurunan muka tanah ini akibat eksploitasi air tanah yang berlebihan. Catatan Badan Geologi, tercatat lebih dari 4.500 sumur produksi yang mengambil air tanah Jakarta untuk keperluan komersil.

Belum lagi, sumur-sumur illegal tak memiliki izin pengusahaan air tanah yang tidak masuk dalam hitungan. Kondisi tersebut mengakibatkan permukaan tanah Jakarta menurun dan berdampak menjadi ancaman serius tenggelamnya Jakarta.

Dalam rangka menanggulangi permasalahan tersebut, Badan Geologi beserta, PAM Jaya dan Pemda DKI Jakarta sedang melakukan program langkah penyelamatan air tanah untuk menjaga sumber daya alam di Jakarta.


Program tersebut diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan pengelolaan sumber daya air Jakarta yang selama ini menjadi permasalahan internal di pemerintah daerah dan pusat.

Selain itu akan dibangun sebuah sistem informasi basis data sumber daya alam Jakarta yang dapat dipantau bersama, sinergisasi data pelanggan air tanah dan pelanggan PAM, serta langkah penertiban sumur-sumur illegal (sumur tidak berizin) dalam rangka penyelamatan potensi pendapatan pajak Negara (pajak air tanah) yang hilang.

Sementara itu, dalam rangka penyelamatan Jakarta tenggelam, Badan Geologi beserta Kementrian PU, JICA dan Pemda DKI Jakarta ikut serta tergabung dalam program NCICD (National Capital Integrated Coastel Development) yang di inisiasi oleh Bappenas.